Mimpi Menteri Erick Thohir Akan Wajah Baru Gedung Sarinah Jakarta
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, berencana membangun gedung Sarinah menjadi tempat pusat perdagangan dan pelatihan. Nantinya, pihaknya akan mengajak berbagai ragam Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk ikut berpartisipasi.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, berencana membangun gedung Sarinah menjadi tempat pusat perdagangan dan pelatihan. Nantinya, pihaknya akan mengajak berbagai ragam Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk ikut berpartisipasi.
"Kalau Sarinah bahwa nanti designer UKM kita coba kuratorkan di situ. Di situ jadi tempat trading dan coaching," ujar Menteri Erick dalam diskusi virtual di Jakarta, Rabu (20/5).
Dia mengatakan, pemerintah tidak menutup pintu bagi perusahaan asing untuk bergabung di mal pertama Indonesia tersebut. Namun, dia menekankan, setiap perusahaan asing harus mendukung brand lokal.
"Saya tidak anti merek asing di Sarinah, asalkan merek asing itu juga mendukung brand lokalnya. Hal-hal ini yang coba kita lakukan. Banyak sekali yang akan kita sinergikan dengan swasta," jelasnya.
Selain membuka pintu untuk pihak asing, Sarinah juga nanti akan disinergikan dengan swasta. Dengan syarat pihak swasta tidak boleh merugikan BUMN dan harus transparan seperti apa kerja sama yang dilakukan.
"Asal yang selalu saya tekankan, di lain pihak kita ngebersihin oknum-oknum, tapi jangan juga nanti kita berpartner dengan swasta malah merugikan BUMN terus. Dia jadi oknum sendiri. Ini kita tidak mau. Makanya harus transparan dan win-win," tandasnya.
Renovasi Gedung, Sarinah Kucurkan Dana Rp1,8 Triliun
Direktur Utama PT Sarinah (Persero) Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa mengatakan, akan merenovasi gedung lama dan membangun gedung baru pada Januari 2020 mendatang. Di mana renovasi tersebut akan memakan dana sebesar Rp1,8 triliun.
"Insya Allah pembangunannya dimulai Januari 2020, di lahan seluas 1,7 hektare," ungkap Ngurah usai acara Ngopi BUMN di Jakarta, Selasa (27/8).
Dia menjelaskan, nantinya penyertaan modal dalam proyek ini ialah 55 persen dari Sarinah, 25 persen dari PT Wijaya Karya (WIKA) dan 20 persen dari PT Pembangunan Perumahan (PP).
Untuk menjalankan proyek tersebut, perseroan akan menggunakan dana pinjaman dari perbankan serta kas internal (self-funding). Dia mengatakan jika proyek ini selesai, Sarinah akan memiliki aset senilai Rp1,5 triliun hingga Rp1,6 triliun.
"Saat ini, aset Sarinah nilainya sekitar Rp400 miliar, jadi kalau gedung baru sudah jadi, asetnya bisa naik 4 kali lipat," tuturnya.
Rencananya, gedung baru akan memiliki 41 lantai dengan 3 basement dan menjadi tempat untuk perkantoran, ritel makanan (food and beverage), hotel lengkap dengan fasilitasnya dan apartemen. Sementara, pembangunan gedung baru ini diprediksi akan memakan waktu hingga 30 bulan atau sekitar 2,5 tahun terhitung sejak Januari 2020.
(mdk/bim)