Menteri Susi: Selama pangan andalkan impor, pasti sering terganggu
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengingatkan, swasembada pangan tidak bisa dengan impor.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ikut angkat bicara terkait aksi mogok pedagang daging sapi karena kelangkaan pasokan dan mahalnya harga. Menteri Susi melihat, kondisi ini terjadi karena Indonesia terlalu mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.
"Apapun produk pangan, kalau kita masih mengandalkan impor, keberlanjutan pemenuhan yang konstan itu akan sering terganggu. Bukan cuma dari stok saja," ujar Menteri Susi saat ditemui di kantornya, Senin (10/8).
Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Perdagangan berencana membuka keran impor sapi dari Australia sebanyak 50.000 ekor. Menanggapi itu, Menteri Susi melihat langkah tersebut bertolak belakang dengan semangat swasembada pangan.
Pemilik maskapai Susi Air ini menyarankan untuk tidak melakukan impor. Lebih baik melakukan diversifikasi daripada harus impor.
"Pemerintah sudah sangat betul, ini kita mengeluarkan energi untuk swasembada pangan. Karena pangan itu fatal dan vital, jadi tidak bisa bergantung impor," tegasnya.
Dalam pandangannya, selama masih mengandalkan impor, target swasembada pangan bakal sulit tercapai. Untuk solusi kelangkaan daging di pasaran, kata Susi, harus diakui bahwa pemerintah tidak bisa menghindari impor.
"Kita harus menjaga daging sapi. Itu kan kebutuhan dan harus tersedia. Itu jadi kewajiban kita. Akan tetapi, kalau itu makin mahal ya kita ganti orientasinya. Selalu menciptakan protein baru. Sektor ikan pun banyak. Kalau memang dibutuhkan impor ya harus dilaksanakan. Kalau bisa diberdayakan, ya kita berdayakan," ucapnya.
Baca juga:
Pedagang sapi di Bandung protes dan kecewa Bulog gelar pasar murah
Pedagang daging sapi mogok, penjualan daging ayam ikut lesu
Wapres JK: Kita akan pelajari masalah pedagang sapi mogok jualan
Harga daging melonjak, Fahri salahkan Mendag
Mendag akan pidanakan importir nakal mainkan pasokan daging sapi