Menkop Teten Sebut Perdagangan Bebas Bikin Pendapatan UMKM Lokal Berkurang
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengatakan, pada tahun 2025 diperkirakan Indonesia akan menjadi target pasar dengan nilai transaksi mencapai Rp 1.800 triliun. Besarnya pasar ini diharapkan bisa dinikmati para pelaku usaha dalam negeri.
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengatakan, pada tahun 2025 diperkirakan Indonesia akan menjadi target pasar dengan nilai transaksi mencapai Rp 1.800 triliun. Besarnya pasar ini diharapkan bisa dinikmati para pelaku usaha dalam negeri.
Hanya saja sejumlah perjanjian internasional berpotensi membocorkan nilai transaksi yang seharusnya hanya dinikmati pelaku usaha lokal.
"Prediksi tahun 2025 ini akan ada perputaran uang hingga Rp 1.800 triliun dan jangan dimungkinkan ada orang luar. Tapi masalah kita ada di perjanjian MEA dan sejenisnya," kata Teten dalam talk show bertajuk 'Saatnya Bangkitkan Pariwisata dan UMKM Indonesia', Jakarta, Senin (19/4).
Teten menilai, Pemerintah kecolongan dengan adanya perjanjian tersebut. Sebab mau tidak mau, pasar 270 juta penduduk Indonesia ini tidak bisa dikuasai sendiri tetapi harus berbagi dengan negara lain.
"Negara kita ini sudah tanda tangan perjanjian dagang. Suka enggak suka ini (harus dilakukan) negara kita sasaran pasar punya 270 juta orang. Rupanya kita punya kecolongan," katanya.
Selain harus berbagai pasar, pelaku usaha Indonesia juga harus bersaing dari sisi harga dan kualitas produk. Sudah menjadi kebiasaan, masyarakat akan mencari harta termurah dengan kualitas produk terbaik.
Sayangnya, produk buatan Indonesia masih belum bisa bersaing dengan banyak negara lain, terutama dari sisi kualitas. Mengantisipasi hal tersebut, perlu ada akselerasi penggunaan digital, peningkatan kapasitas produksi, hingga SDM di pelaku usaha dalam negeri. Tranformasi digital saat ini terus dilakukan Pemerintah.
Tak cukup sampai situ, pelaku UMKM sudah banyak yang melapak di pasar online, namun sebagian masih terkendala kapasitas produksi agar bisa bersaing. "Kalau kapasitas sedikit, lalu ada pesanan jumlah besar, nanti dia sulit untuk memenuhi permintaan yang masuk," kata dia.
Selain itu, peningkatan SDM juga harus dilakukan terutama bagi pelaku usaha yang menjalani bisnisnya sambil memproduksi barang. Sedangkan dalam perdagangan online, penjual dituntut harus lebih responsif melayani jual beli di e-commerce.
Baca juga:
Ratifikasi IEFTA CEPA Tingkatkan Ekspor Produk Indonesia ke Eropa
Kemendag Target Selesaikan 4 Perjanjian Perdagangan Bebas Tahun ini
Wamendag Jerry: IA-CEPA Optimalkan Indonesia Sebagai Economic Powerhouse
Ada IEU-CEPA, Ekspor Indonesia akan Meningkat 5,4 Persen
Pemerintah dan DPR Setujui RUU IE-CEPA
Indonesia Negosiasi 11 Perjanjian Dagang Baru