Menko Darmin tegaskan pelemahan Rupiah bukan indikasi krisis ekonomi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan, pelemahan nilai tukar Rupiah tidak bisa secara otomatis disebut sebagai tanda masuknya Indonesia ke dalam fase krisis. Sehingga, dia meminta masyarakat tidak berasumsi jika Indonesia akan kembali mengalami krisis.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan, pelemahan nilai tukar Rupiah yang telah menembus angka 14.200 per USD tidak bisa secara otomatis disebut sebagai tanda masuknya Indonesia ke dalam fase krisis. Sehingga, dia meminta masyarakat tidak berasumsi jika Indonesia akan kembali mengalami krisis.
"Sebetulnya kalau ngomong lampu kuning ya agak berlebihan lah. Jangan kurs dolar bergerak, kemudian disimpulkan sudah mau krisis," ujar dia di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (24/5).
Menurut dia, ada banyak faktor yang menjadi penentu terjadinya krisis. Selain nilai tukar, kondisi di sektor riil juga jadi penentu apakah perekonomian sebuah negara masuk ke fase krisis.
"Kalau krisis itu sektor riilnya juga harus goyang. Yang kemudian memberi dampak pada sektor moneter. Ini masih belum lah," kata dia.
Meski begitu, pemerintah tetap akan memberikan perhatian terhadap gejolak nilai tukar rupiah. Dia berharap rupiah bisa segera kembali ke level normal.
Diketahui, Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) bergerak fluktuatif di perdagangan hari ini, Kamis (24/5). Rupiah pagi ini dibuka di level Rp 14.195 atau menguat dibanding penutupan perdagangan kemarin di Rp 14.209 per USD.
Mengutip data Bloomberg, Rupiah sempat melemah melewati batas Rp 14.200, yakni di level Rp 14.212 per USD. Namun kemudian bergerak menguat hingga ke level Rp 14.148 per USD. Saat ini, Rupiah berada di level RP 14.165 per USD.
Reporter: Septian Deny
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Rupiah bergerak menguat di level Rp 14.165 per USD
Menko Luhut soal Rupiah sempat tembus Rp 14.000: Ekonomi kita masih baik
BI buka layanan penukaran uang di Monas hingga 25 Mei 2018
Ini warisan Agus Martowardojo usai menjabat sebagai Gubernur BI
BI sediakan uang tunai Rp 188,2 triliun saat Lebaran