LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Menko Darmin blak-blakan soal tingginya impor pangan di awal 2018, termasuk beras

Darmin menyatakan, kenaikan impor pangan ini salah satunya didorong oleh impor beras. Hingga saat ini, pemerintah telah mengeluarkan izin impor beras hingga 1 juta ton beras.

2018-05-28 11:41:00
Impor Beras
Advertisement

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengakui jika impor pangan pada awal tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, ini harus dilakukan agar tidak menimbulkan kerugian di masyarakat.

Darmin menyatakan, kenaikan impor pangan ini salah satunya didorong oleh impor beras. Hingga saat ini, pemerintah telah mengeluarkan izin impor beras hingga 1 juta ton beras.

"Mengenai impor pangan, memang kuartal I 2018 ini barangkali impor pangan sedikit lebih tinggi dari biasanya. Karena kita impor beras. Tapi itu dilakukan karena benar-benar situasinya kita anggap kalau itu tidak dilakukan, harga bisa bergerak dan rugikan sebagian atau seluruh masyarakat," ujar dia di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Senin (28/5).

Advertisement

Secara komposisi, impor pangan yang paling besar bukan beras, melainkan gula tebu dan gandum. Namun hal ini masuk kategori impor barang konsumsi, melainkan bahan baku.

"Sebetulnya impor pangan kita yang terbesar itu adalah gula tebu dan gandum. Tapi gandum ada dua macam, yaitu gandum untuk terigu dan dia tidak dikelompokkan sebagai konsumsi oleh BPS, tapi bahan baku. Karena gandumnya harus diproses dulu. Ada gandum yang bahan konsumsi yang pada waktu Kementan melarang impor jagung kemudian terjadi perpindahan impor itu ke gandum KW 3," jelas dia.

Selain itu, kata Darmin, komposisi impor barang konsumsi dari total impor Indonesia juga terbilang kecil jika dibandingkan dengan barang modal serta bahan baku dan barang penolong. Oleh sebab itu, impor ini tidak perlu dijadikan polemik yang berlebihan.

Advertisement

"Angkanya ada di 10 persen, barang modal 20 persen, bahan baku dan penolong di 70 persen. Komposisi tidak berubah banyak dan sedikit sekali perubahannya dari tahun ke tahun. Namun secara keseluruhan pemerintah yakin kita tidak boleh neraca perdagangannya defisit. Karena negara yang neraca perdagangannya defisit tekanannya agak lebih dari negara lain. Ini adalah persepsi pasar saja sebetulnya yang belum tentu benar," tandas dia.

Reporter: Septian Deny

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
DPR panggil Kemendag, Kementan dan Bulog evaluasi putusan impor beras
Kementan-Kemendag beda pendapat soal impor beras jilid II, ini respons Menko Darmin
Ini penjelasan lengkap Mendag Enggar soal tambahan impor beras 500.000 ton
Ditanya soal impor, Menteri Amran justru banggakan pertumbuhan ekspor pertanian
Ketua DPR sebut impor pangan tak haram

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.