Mengintip kecanggihan teknologi digital dalam operasional Bandara Changi Singapura
SATS Ltd, perusahaan yang menangani ground-handling di Bandara Changi, telah mengaplikasikan teknologi agar membuat kerja staf lebih efisien. Tahun 2018 ini, SATS melakukan ujicoba perangkat bernama 'Follow Me Chair'. Kursi ini difungsikan untuk membantu penumpang berpindah dalam terminal.
Singapura serius dalam menghadapi revolusi industri keempat. Segala kesiapan terlihat dari penggunaan teknologi muktahir, otomatisasi, digitalisasi, sampai menciptakan standardisasi bagi perusahaan kecil maupun raksasa.
Salah satu penerapan tersebut bisa ditemui di Bandar Udara Changi. Data Dewan Bandara Internasional (ACI) mencatat Changi sebagai bandara tersibuk ke-18 dunia.
SATS Ltd, perusahaan yang menangani ground-handling di Bandara Changi, telah mengaplikasikan teknologi agar membuat kerja staf lebih efisien. Tahun 2018 ini, SATS melakukan ujicoba perangkat bernama 'Follow Me Chair'. Kursi ini difungsikan untuk membantu penumpang berpindah dalam terminal.
"Khususnya untuk lansia atau memiliki keterbatasan," kata Manajer Humas SATS Tan Yen Ling di Bandara Changi, Singapura, Rabu (17/10).
Penumpang hanya perlu duduk dikursi yang berjejer tiga dan terpisah. Petugas akan menyalakan alat di kursi paling depan, lalu dengan teknologi sensor dua kursi belakangnya mengikuti secara otomatis. Changi bakal memiliki 50 unit kursi ini untuk di semua terminal pada 2019.
Teknologi sensor itu juga dimanfaatkan alat pengangkut barang bernama 'Dolly'. Petugas bandara hanya perlu menekan satu tombol dan alat pengangkut akan mengikuti otomatis.
Pengawasan di landasan pacu juga sudah terdigitalisasi. Changi memiliki Technical Ramp Control Room. Tiga orang mengawasi ratusan pekerja teknik yang menangani mulai dari keluar masuknya pesawat, sampai pengecekan mesin.
Enam monitor raksasa terpampang yang menampilkan peta detail landasan pacu, serta para pekerja di lokasi. Adapun yang diawasi seperti saat pesawat akan terbang atau masuk, mengalami masalah delay, juga pengisian bahan bakar. Kalau ada kesalahan, sistem otomatis akan memberitahu.
Ruang pengawasan lainnya, memiliki fungsi khusus memastikan kargo pesawat tepat terkirim. Menggunakan augmented reality, petugas bisa mengecek apakah kargo yang tengah berpindah dibawa ke pesawat yang tepat. Petugas menggunakan kacamata khusus untuk melihat informasi tanpa membuka kargo. Kalau salah, akan menampilkan berwarna merah.
Dengan bantuan teknologi demikian, petugas bandara tak perlu lagi bolak balik ruang pengawasan. Serta tak pakai metode manual dengan kertas.
Di lapangan petugas dilengkapi peralatan yaitu headset yang terpasang di helm, serta jam pintar. Petugas pengawas hanya tinggal menelpon jika ada masalah atau sekadar memberikan arahan. Penerimanya tinggal mendengarkan tanpa perlu mengganggu pekerjaan yang tengah dilakukan.
Tan menjelaskan, penggunaan teknologi ini tak serta-merta membuat pemotongan jumlah tenaga kerja. Justru, mereka tak perlu menambah orang untuk mengerjakan banyak hal.
Berkat otomatisasi dan digitalisasi, menurutnya, pekerjaan menjadi lebih efisien dan membuat pekerjaan di lapangan lebih menyenangkan. "Pekerjaan justru lebih efisien, para pekerja juga terlihat senang dengan alat tersebut," ujarnya.
Baca juga:
Singapura turut gencar latih tenaga kerja hadapi revolusi industri 4.0
Di Singapura, Ma'ruf Amin bicara soal isu kesetaraan gender
Ma'ruf Amin mengaku ingin tiru Singapura dalam mengelola SDM
Ini cara industri farmasi Singapura hadapi revolusi industri ke-4
Bertemu PM Singapura, Ma'ruf Amin bicara pentingnya ekonomi berkeadilan
Rambah pasar Eropa, Singapura kerja sama bidang start-up dengan Jerman
Singapura jadi pertama punya standarisasi revolusi industri ke-4