Menghitung Pengeluaran Pengemudi Ojek Online Jika BBM Pertalite Dihapus
Igun menjelaskan rata-rata pengemudi ojol sehari bekerja selama 12 jam. Setiap jamnya para pengemudi menempuh jarak 10 Km dalam satu jam. Sehingga dalam sehari menempuh jarak sekitar 120 Km.
Pengemudi ojek online yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua Indonesia (Garda) mengaku tak setuju dengan rencana pemerintah menghapus Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite secara bertahap. Asosiasi pengemudi ojek online (ojol) ini keberatan karena sebagian besar menggunakan Pertalite dan bisa memengaruhi pendapatan bila dihapuskan.
"Kami tidak setuju, sebagian besar pengemudi ojol pakai Pertalite," kata Ketua Umum Garda Igun Wicaksono saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Jumat (24/12).
Igun menjelaskan rata-rata pengemudi ojol sehari bekerja selama 12 jam. Setiap jamnya para pengemudi menempuh jarak 10 Km dalam satu jam. Sehingga dalam sehari menempuh jarak sekitar 120 Km.
Dia melanjutkan setiap 1 liter Pertalite bisa digunakan hingga 30-35 kilometer. Sehingga kebutuhannya BBM sehari sekitar 5 liter. Dengan harga Pertalite rata-rata Rp7.650 per liter, maka uang yang digunakan untuk membeli BBM sehari Rp38.250.
Sementara itu, dengan jam kerja demikian pendapatan rata-rata pengemudi mencapai Rp200.000. Dari pendapatan tersebut dikurangi membeli BBM, menjadi Rp161.750. "Berarti biaya untuk beli BBM sekitar 20 persen," kata dia.
Bila Pertalite dihapus pemerintah, mau tidak mau para pengemudi menggunakan BBM jenis Pertamax yang harganya sekitar Rp9.000 per liter. Maka, biaya yang diperlukan sehari untuk BBM sekitar Rp45.000. Lalu dikurangi pendapatan yang sama, maka uang yang diterima hanya Rp155.000.
"Jadi ini memakan hingga 25 persen dari pendapatan," kata dia.
Belum Dikurangi Biaya Perawatan
Berbagai asumsi tersebut belum dikurangi untuk biaya makan atau perawatan kendaraan lainnya. Sehingga, rencana penghapusan Pertalite akan memengaruhi pendapatan para pengemudi ojek online.
Untuk itu dia meminta pemerintah untuk memikirkan kembali rencana penghapusan Pertalite. Bila hal itu tidak bisa dihindarkan, maka dia ingin pemerintah mempercepat berbagai infrastruktur penggunaan energi baru terbarukan (EBT), khususnya dalam hal transportasi.
"Moda transportasi ini harus pikirkan, dilakukan subsidi unit baru, harga jual juga harus lebih ekonomis dan dapat insentif. (Diskon) pajak kendaraanya juga jangan kecil sekali," kata dia mengakhiri.
Sebelumnya, dalam rangka peralihan penggunaan energi bersih, Pemerintah memberi sinyal akan menghapus Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dan Pertalite secara bertahap. Tahap awal, pemerintah akan mendorong penggunaan bensin RON 90 atau Pertalite sebagai bahan bakar minyak ramah lingkungan.
(mdk/idr)