Membongkar kehebatan pesawat tanpa awak buatan anak bangsa
Pesawat ini berbeda dengan drone.
Indonesia saat ini mulai menunjukkan taringnya dalam membuat produk teknologi tinggi. Anak bangsa melalui Indonesia Maritime Institute (IMI) berhasil menciptakan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle. Pesawat tersebut bahkan telah lulus uji coba di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute, Dr Y Paonganan, Ssi, Msi mengatakan riset awal pengembangan pesawat tanpa awak ini telah dimulai dari 2013 silam di Lembang, Bandung. Beberapa kali uji terbang, kini pesawat sudah siap diproduksi secara masal.
"Kita mulai riset dari 2013 dan sudah beberapa kali uji terbang. Kini pesawat buatan anak negeri ini siap diproduksi," ucap Paonganan ketika dihubungi merdeka.com di Jakarta, Kamis (21/5).
Paonganan menjelaskan secara detail mengenai kehebatan pesawat tanpa awak buatan anak negeri ini. Menurutnya, produk yang diciptakan sangat berbeda dengan drone atau pesawat remot kontrol. Dia mengakui, selama ini orang banyak salah menilai pesawat buatan dia sama saja seperti drone.
"Ini banyak salah pengertian orang. Kalau menggunakan remot kontrol itu kan terbatas seperti drone itu. Kemamapuan mereka engga bisa jauh. Sedangkan pesawat kita bisa terbang 100 KM atau 200 KM pulang pergi," tegasnya.
Selain itu menurut Paonganan, pesawat remot kontrol tidak bisa tahan lama di atas udara. Sedangkan pesawat ciptaan IMI mampu terbang rendah selama 5 jam. Untuk bahan bakar pesawat ini Pertamax. "Karena mereka pakai batrai paling lama 25 menit kalau setelah itu habis kan. Kita bisa lama dan dilengkapi autopilot," jelasnya.
Paonganan menegaskan, pesawat yang diciptakannya bersama anak bangsa sama persis dengan pesawat biasa. Namun yang membedakan hanya tidak ada pilot. Pesawat dengan lebar 4 meter dan panjang sekitar 3 meter ini bisa melakukan landing dan take off di air (laut) maupun di darat.
"Kita ciptakan untuk take off dan landing dari air dan bisa juga lewat darat nanti ada roda cadangan. Jadi tinggal pilih apa memantau laut atau perbatasan, tergantung kegunaannya. Mendarat di air saja mulus apalagi di darat, itu kan lebih mudah," tegasnya.
Ketika beroperasi, pesawat tanpa awak yang dinamakan OS-Wifanusa ini dikendalikan dari bawah atau ground control station. Sebelum terbang, pesawat diatur akan lewat mana, seberapa lama hingga harus mendarat di mana. Pengaturan jalan pesawat dengan sebuah software yang dia sebut sebagai way point.
"Jadi way pointnya kita tentukan itu pesawat terbang ke mana, berapa lama sampai dia balik lagi. Kita akan kontrol dari ground control station yang kita siapkan di mobil. Jadi nanti pesawat bisa terbang ke mana mana memantau perbatasan," katanya.
Dia memastikan, pesawat terbang tanpa awak ini murni buatan Indonesia, memiliki kemampuan yang tidak kalah dibandingkan dengan produksi dari negara lain. Pesawat terbang tanpa awak mempunyai mesin dua tak, dengan kapasitas 170 CC serta mampu mengangkat pesawat dengan beban 60-70 kilogram.
"Untuk lepas landas di air, pesawat ini hanya membutuhkan jarak sekitar 50 meter. Sedangkan untuk di darat hanya butuh landasan tanah rata sekitar 30-40 meter. Tingkat kesulitan terbang dari air itu 100 kali lipat lebih susah dari di darat. Jadi di darat sudah pasti bisa. Di air saja lepas apa lagi di darat. Kalau di darat di lapangan bola juga bisa dengan catatan area take off agak terbuka jangan banyak pohon," tutupnya.
(mdk/idr)