Masuk Era Digitalisasi, Mesin ATM Mulai Ditinggalkan?
Perkembangan digitalisasi membuat penggunaan mesin ATM mulai berkurang. Intensitas transaksi di mesin ATM mulai tergantikan dengan layanan mobile banking yang dihadirkan setiap bank.
Siapa yang tak kenal dengan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Hampir di setiap sudut minimarket berdiri mesin berukuran 85 cm x 55 cm.
Tak hanya di mini market di berbagai pusat perbelanjaan hingga mall selalu menyediakan ruang khusus untuk mesin ATM dari berbagai bank. Fungsinya untuk mempermudah berbagai transaksi perbankan secara mandiri.
Namun siapa sangka, perkembangan digitalisasi membuat penggunaan mesin ATM mulai berkurang. Intensitas transaksi di mesin ATM mulai tergantikan dengan layanan mobile banking yang dihadirkan setiap bank.
Apalagi sekarang orang-orang mulai beralih menggunakan sistem pembayaran tanpa uang tunai (cashless). Bisa menggunakan kartu debit maupun pembayaran dengan QRIS langsung dari aplikasi mobile banking. Perkembangan teknologi ini membuat masyarakat mengurangi intensitas penggunaan mesin ATM.
Seperti yang dilakukan Zahra (28), salah satu pegawai yang berkantor di kompleks Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Pusat. Zahra mengaku dalam sebulan dia hanya mengambil uang tunai di ATM 2 kali saja. Uang tunai hanya digunakan untuk membayar indekos, belanja bulanan dan kebutuhan darurat yang hanya bisa menggunakan uang tunai. Selebihnya, dia menggunakan uang elektronik atau cashless.
"Aku sudah jarang ambil uang ke ATM. Paling sebulan 2 kali, ambil uang buat bayar kos atau belanja yang harus pakai uang tunai," tutur Zahra saat berbincang dengan merdeka.com, Jakarta, Kamis (13/10).
Tinggal di pusat kota membuatnya tak perlu repot membawa uang tunai. Saat masih tinggal di Bandung, Zahra mengaku 3 kali dalam sepekan mengambil uang dari mesin ATM. Sebab, lingkungan di sekitarnya hanya melayani pembayaran tunai.
"Kalau dulu hampir 3 kali seminggu ngambil ke ATM. Ambilnya enggak banyak, paling Rp 50.000, buat beli makan siang di warung," kata dia.
Setelah pindah ke Jakarta, untuk makan siang dia lebih banyak menggunakan pembayaran cashless atau kartu debit. Mengingat saat ini sudah banyak tempat makan yang hanya menerima transaksi non tunai.
Begitu juga dengan kebutuhan mobilitas. Biasanya dia menggunakan jasa ojek online yang pembayarannya menggunakan uang elektronik. Kebiasaan ini yang membuatnya makin jarang menggunakan uang tunai. Bahkan, dia tak lagi khawatir jika bepergian tidak membawa dompet karena semua transaksi ini bisa dilakukan melalui ponsel.
"Jadi kalau enggak bawa dompet ya enggak apa-apa, kan semua bisa pakai HP," ungkapnya.
Kisah serupa juga diungkapkan Merry yang juga pegawai swasta di Jakarta. Dia mengaku sangat jarang pergi ke ATM untuk mengambil uang tunai. Alasannya, berbagai transaksi sudah bisa dilakukan melalui handphone.
Merry (27) bercerita, dia hanya pergi ke ATM untuk mengecek saldo di rekening bank khusus tabungannya. Dia sengaja tidak menggunakan layanan mobile banking untuk salah satu rekeningnya karena uang yang disimpan hanya untuk menabung. Sementara untuk kebutuhan transaksi sehari-hari dia menggunakan rekening yang berbeda.
"Aku jarang banget ke ATM. Paling ke ATM cuma buat ngecek saldo di rekening tabungan aku aja," kata Merry saat berbincang dengan merdeka.com.
Cerita berbeda datang dari Rama (27). Rama mengaku masih sering mengambil uang tunai dari mesin ATM. Di kantornya, uang transportasi diberikan ketika ada proyek turun ke lapangan. Uang yang dikirim langsung diambil untuk dibagikan kepada timnya.
"Kalau ada proyek, uang langsung diambil buat dibagi-bagi ke tim," kata dia.
Sebenarnya, kata Rama, bisa saja uang jalan dibagikan dengan cara transfer. Namun dia memilih tidak menggunakan aplikasi mobile banking sebagai upaya penghematan. Kalaupun ada berlebih, dia akan menyimpannya kembali di bank atau top up saldo uang elektronik di mini market.
"Nah pas jatah saya, saya balik lagi ke ATM atau isi saldo Dana, buat transaksi non tunainya," kata Rama.
Sebagai informasi, berdasarkan data Bank Indonesia, transaksi nilai transaksi uang elektronik pada Agustus 2022 telah mencapai Rp 35,5 triliun atau tumbuh 43,24 persen (yoy). Kemudian nilai transaksi melalui digital banking sebesar Rp 4.557,4 triliun atau mengalami peningkatan 31,40 persen (yoy).
Sementara itu, nilai transaksi melalui mesin ATM hanya Rp 722,5 triliun. Meskipun mengalami pertumbuhan 34,72 persen (yoy), namun secara nilai jauh lebih rendah dari transaksi melalui uang elektronik maupun penggunaan digital banking.
(mdk/azz)