LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Maskapai Internasional Ramai-ramai Batalkan dan Alihkan Penerbangan di Timur Tengah

Hal itu terjadi karena penerbangan pesawat Boeing 737 oleh Ukraina International Airlines, jatuh di dekat Bandara Imam Khomeini di Teheran, pada Rabu (8/1).

2020-01-09 14:05:30
Konflik Iran-AS
Advertisement

Maskapai penerbangan internasional utama ramai-ramai membatalkan dan mengalihkan penerbangan di Timur Tengah. Hal itu terjadi setelah Iran menembakan selusin rudal di dua pangkalan militer Irak, yang menampung pasukan Amerika Serikat (AS).

Maskapai yang menghindari langit Iran dan Irak di antaranya Air France (AFLYY) , Lufthansa (DLAKY), Malaysia Airlines dan EVA Air Taiwan. Sementara Singapore Airlines (SINGF) mengatakan tidak akan menerbangkan pesawatnya di atas langit Iran.

Dilansir dari laman CNN, Badan Penerbangan Federal membatasi aktivitas penerbangan komersial AS. Di antaranya pada wilayah udara Irak, Iran, perairan Teluk Persia dan Teluk Oman. Selain itu, pihak berwenang Rusia juga merekomendasikan maskapai negara tersebut untuk menghindari area yang sama.

Advertisement

Hal itu terjadi karena penerbangan pesawat Boeing 737 oleh Ukraina International Airlines, jatuh di dekat Bandara Imam Khomeini di Teheran, pada Rabu (8/1). Di dalamnya terdapat 176 penumpang dan awak kabin. Menurut pejabat Urkania, jatuhnya Pesawat Boeing 737 menewaskan 82 warga Iran dan 63 warga Kanada.

Perdana Menteri Ukraina, Oleksiy Honcharuk mengatakan, untuk saat ini, situasi masih terlalu dini untuk menentukan penyebab terjadinya kecelakaan. Dalam situs webnya, Kedutaan Ukraina di Iran telah menyatakan bahwa jatuhnya pesawat Boeing 737 bukan karena serangan teror atau roket.

Advertisement

Ketegangan Menyulitkan Akses Penerbangan

Ketegangan yang terjadi antara AS dan Iran dinilai menyulitkan akses penerbangan untuk melewati kawasan Timur Tengah. Penyebabnya karena persaingan politik atau perang, sehingga di sebagian besar wilayah udara sudah terlarang untuk dilalui.

Akibat dari ketegangan itu, maskapai Lufthansa mengatakan tidak akan terbang ke Teheran atau Erbil. Maskapai Emirates juga diketahui telah membatalkan penerbangan, antara Dubai dan Baghdad, yang menjadi lokasi tewasnya jenderal Iran.

Selain itu, British Airways (ICAGY) dan Virgin Atlantic mengatakan, mereka belum mengalihkan penerbangan, dan masih memantau situasi. Sementara Maskapai Qatar Airways dan Turkish Airlines mengatakan, mereka melakukan penerbangan seperti biasa.

Di samping itu, maskapai komersial dan perusahaan pengangkutan barang, memilih untuk mengambil jalan memutar. Hal itu dilakukan sebagai wujud pembatasan penerbangan agar tidak ada gangguan yang lebih akut, dari pada Timur Tengah.

Sejak beberapa tahun terakhir, maskapai komersial dan perusahaan pengangkutan barang, telah menghindari jalur penerbangan di langit Suriah. Hal itu dilakukan agar menjauh dari wilayah udara, yang dipatroli oleh pesawat militer. Sementara di berbagai titik, tetap menghindari jalur bagian Iran dan Irak.

Di sisi lain, beberapa penerbangan dari bandara Eropa, seperti London, Amsterdam dan Frankfurt, masih harus melintasi wilayah tersebut. Untuk mencapai tujuan-tujuan mereka ke wilayah Asia, seperti Bangkok dan Singapura.

Mil tambahan untuk menghindari masalah tersebut mengakibatkan biaya maskapai dapat keluar lebih banyak. Dengan total biaya untuk bahan bakar jet, mencapai USD 180 miliar per tahun.

Reporter Magang : Nurul Fajriyah

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.