Masih Ada Perang Dagang, Wamendag Pastikan RI Optimalkan Seluruh Celah Peluang
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengatakan, Indonesia memposisikan diri untuk menangkap peluang dari adanya perang dagang ini. Dia menilai konflik dagang merupakan hal wajar dan dapat terjadi antara dua negara.
Perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China masih berlanjut hingga kini. Kendati tersebar keyakinan bahwa kemenangan calon presiden Partai Demokrat, Joe Biden, bakal segera mengakhiri konflik sengit ini.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengatakan, Indonesia memposisikan diri untuk menangkap peluang dari adanya perang dagang ini. Dia menilai konflik dagang merupakan hal wajar dan dapat terjadi antara dua negara.
"Kami lihat dalam sebuah konstelasi politik global pasti ada negara besar yang mempengaruhi, kami lihat ada peluang. Kalau ada 2 negara sedikit berdinamika, itu menurut saya biasa-biasa saja," jelas Jerry dalam LiveStreaming Liputan6 "Wamen Jerry Sambuaga dan Pertemuan WTO" Live from Jenewa, Swiss, Kamis (10/12).
Jerry menegaskan, Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi kerja sama. Sebab, Indonesia berkawan dengan semua negara. Indonesia juga terbuka dalam menjalin persahabatan dengan negara-negara lain, baik secara regional, bilateral maupun multilateral.
Dalam konteks perang dagang saat ini, Indonesia dapat menangkap peluang di sektor yang 'kosong' akibat konflik, baik di rantai pasok maupun distribusi. "Yang lebih penting peluang, seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) itu luar biasa, terbesar kedua setelah WTO dan memiliki nilai signifikan," ujarnya.
Di tengah pandemi Covid-19 pun, Indonesia fokus kepada kerja sama dengan negara lain untuk saling meningkatkan ekspor. "Kita lihat di dunia kan butuh APD misalnya, tidak mungkin negara tidak butuh, ada yang kekurangan juga hal seperti itu butuh pengertian dan pemahaman. Dependence itu keniscayaan, kita tidak bisa hidup sendiri," tandasnya.
Fasilitas GSP Diberikan, RI Ingin Bangun Perdagangan Adil dengan AS
Pemerintah menyambut baik perpanjangan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) dari United States Trade Representative (USTR) Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia.
Duta Besar RI untuk AS Muhammad Lutfi menilai, perpanjangan fasilitas GSP ini menunjukkan tingginya kepercayaan Pemerintah AS terhadap berbagai perbaikan regulasi domestik Indonesia dalam rangka menciptakan iklim bisnis dan investasi yang lebih kondusif di Tanah Air.
"Tidak ada negara lain yang GSP-nya ditinjau ulang dan mendapatkan perpanjangan. Pada tahun 2021 saya pastikan bahwa Indonesia akan menjadi GSP terbesar, pengguna yang memiliki hak istimewa untuk berdagang. Dan ini adalah hal yang baik untuk Indonesia," ujar Lutfi dalam dalam US-Indonesia Investment Summit ke-8, Kamis (10/12).
Lufti juga menyatakan bahwa aktivitas bisnis kedua negara akan berlangsung secara adil. Artinya, jika Indonesia mengekspor produk ke Amerika, maka Indonesia juga akan membeli produk-produk dari AS.
"Jadi saya menyatakan bahwa jika kami ingin menjual lebih banyak maka Indonesia harus membeli lebih banyak. Dan ini merupakan komitmen kami atas perpanjangan GSP yang diterima Indonesia," kata dia.
"Kami menjual lebih banyak, kami harus membeli lebih banyak. Inilah kenapa saya menyebut Amerika dan Indonesia sebagai the old new best friend," sambung Lutfi.
Sebelumnya, American Chamber of Commerce (AmCham) Indonesia dan The U.S. Chamber menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun, kinerja hubungan ekonomi Indonesia-AS tercatat buruk.
Misalnya, meskipun Indonesia memiliki ekonomi USD 1,1 triliun, ekspor AS ke Indonesia tahun lalu kurang dari USD 8 miliar, dan di bawah negara-negara yang jauh lebih kecil seperti Peru dan Republik Dominika.
Sementara impor AS dari Indonesia lebih besar, namun pada dasarnya tetap datar selama beberapa tahun terakhir. Bahkan di tengah ketegangan perdagangan AS-China, di mana seharusnya membuka peluang bagi Indonesia untuk memposisikan diri sebagai pemasok alternatif dan meningkatkan ekspornya ke AS.
Reporter: Athika Rahma dan Pipit Ika Ramadhani
Sumber: Liputan6
(mdk/bim)