Luhut Buka Peluang Reformasi Bea Cukai Digantikan DSI dan AI
Rencana itu seiring sata ekspor tersimpan di Bea Cukai dan Indonesia National Single Window (INSW) diintegrasikan sistem PT DSI, BUMN eksportir komoditas SDA.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan tidak menutup kemungkinan jika peran Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC), atau Ditjen Bea Cukai nantinya bakal tergantikan oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan kecerdasan buatan (AI).
Seiring data ekspor selama ini tersimpan di Bea Cukai dan Indonesia National Single Window (INSW) diintegrasikan ke dalam sistem PT DSI, BUMN eksportir komoditas sumber daya alam (SDA).
Pernyataan ini dikemukakan Luhut usai menggelar seminar bersama Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara di Kantor Dewan Ekonomi Nasional, Jakarta, Senin (25/5).
"Bea Cukai? Kita lihat aja nanti Pak Sua (Wamenkeu) punya mainan. Kalau memang nanti enggak perlu ya, ngapain pakai-pakai Bea Cukai?" tegas Luhut.
"Atau tugasnya dia Bea Cukai ada, tapi semua AI. Semua basisnya AI," imbuh Luhut.
Luhut mencontohkan ekspor batu bara yang sudah diwajibkan satu pintu melalui DSI. Perusahaan pengekspor komoditas berbasis fosil ini wajib memenuhi 7 kriteria utama, semisal memenuhi kuota domestic market obligation (DMO).
"Sejak dia dikeluarkan lisensinya, dia sudah harus melaporkan berapa cadanganmu, berapa kalorimu, dimana tempatmu, berapa kau mau ekspor, dan seterusnya. Itu semua terintegrasi," ujar Luhut.
Pantau Pembayaran Pajak dan Royalti
Sebelum bisa melakukan ekspor, pemerintah melalui INSW nantinya akan memantau apakah badan usaha bersangkutan sudah memenuhi kewajiban pajak maupun membayar royalti.
"Kalau kau belum bayar royalti, ya sudah, tap, enggak bisa. Kamu enggak akan bisa diancam oleh siapa aja. Jadi mau tentara, mau polisi, mau siapa aja, tidak bisa mempengaruhi sistem ini," kata Luhut.
Dia pun tidak memungkiri jika beberapa aspek kewajiban tersebut dulunya masih luput terpantau oleh e-katalog, sehingga menciptakan anomali harga. "Tapi dengan kita pakai AI sekarang, enggak ada lagi anomali harga," ujar Luhut.