Lima negara yang mata uangnya terpuruk dari dolar
Wapres Boediono mengingatkan bahwa Rupiah bukan satu-satunya yang mengalami pelemahan di dunia.
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) saat ini tengah 'berdarah-darah'. Hari ini nilai tukar Rupiah berdasarkan data transaksi aktual antar bank atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di level Rp 10.950 per USD. Besaran Rupiah ini kembali melemah dibanding sehari sebelumnya di level Rp 10.883 per USD.
Sejumlah kalangan menilai pelemahan Rupiah disebabkan oleh dua faktor yakni eksternal dan internal. Dari eksternal disebabkan oleh rencana The Fed untuk mengurangi stimulus ekonominya pada September mendatang.
Sementara faktor internal adalah tingginya kebutuhan USD dari korporasi untuk memenuhi kewajiban pembayaran dalam mata uang asing. Di sisi lain, akibat melemahnya kinerja ekspor membuat cadangan valas Indonesia menipis. Kesulitan pemenuhan mata uang asing ini membuat nilai Rupiah babak belur.
Menurut pandangan Wakil Presiden, Boediono, likuiditas global yang mengetat membuat mata uang dolar USD kembali ke negaranya. Ini menimbulkan dampak luas bagi perekonomian suatu negara.
"Ada perubahan kebijakan di negeri adikuasa sana, mereka membuat kebijakan moneter baru dengan tujuan untuk menggerakkan ekonomi dalam negeri. Akibatnya, USD mulai bergelontor masuk ke dalam negeri mereka. Dengan naiknya kebutuhan akan USD, baik untuk membayar impor dan lain sebagainya, maka di seluruh dunia harganya merangkak naik. Ini berimbas pada melemahnya mata uang dunia, termasuk Indonesia," urai Wapres.
Rupiah menurutnya bukan satu-satunya yang mengalami pelemahan di dunia melainkan juga Rupee India, Real Brazil, Won Korea Selatan, Lira Turki, Yen Jepang, Dollar Singapura, Ringgit Malaysia, Euro Eropa dan bahkan Dollar Australia. Namun kewaspadaan tetap tidak boleh hilang mengingat dampak langsungnya adalah likuiditas berkurang, harga USD meningkat dan ekspor menurun.
"Jangan kita merumuskan problemnya ada di Rupiah, bisa fatal. Rupiah lebih baik daripada Brazil dan Afrika Selatan," kata Wapres.
Pelemahan juga terjadi di negara kawasan. Berikut merdeka.com merangkum negara mana saja yang mengalami pelemahan seperti dilansir dari businessinsider.com.
India
Rupee India mengalami pelemahan terparah. Pertumbuhan India diprediksi tetap akan menghadapi tekanan dalam beberapa bulan mendatang.
Lambatnya pertumbuhan disebabkan oleh kondisi likuiditas yang ketat dan investasi modal melesu serta tingkat konsumsi juga anjlok.
Hal ini diperparah dengan besaran inflasi India menunjukkan peningkatan dan meningkatnya impor sehingga transaksi berjalan semakin defisit. Kondisi di India sebetulnya tak berbeda jauh dengan di Indonesia.
Venezuela
Masalah minyak di Venezuela menjadi penyebab tingginya angka inflasi. Meski negara ini kaya akan minyak namun kebijakan belanja sosial pemerintahan Chavez menggerus neraca perdagangannya.
Tingginya angka inflasi membuat nilai tukar Bolivar turun 80,6 persen dibanding dolar USD. Inflasi di negara tersebut mencapai 249,3 persen.
Iran
Nilai tukar Iran terpuruk disaat krisis inflasi pada 2012 silam. Di mana saat itu Iran tengah menjalankan gagasan Troubled Currencies Project (Proyek mata uang bermasalah), persoalan tersebut juga akibat dari beratnya ekonomi Iran dan sanksi pihak Barat pada Juli 2010.
Nilai tukar resmi, Rial terhadap Dolar itu sangat berdekatan dengan nilai tukar di pasar luar negeri. Sejak menerima dampak dari sanksi tersebut, perbedaan nilai tukarnya terlihat menguat.
Iran juga sempat mengalami penurunan permintaan mata uang terparah di awal September 2012 dan yang kedua terjadi di pertengahan Oktober, di mana saat nilai inflasinya mencapai tingkat hiperinflasi (lebih besar 50 persen per bulan). Sehingga nilai Rial membuat peningkatan tajam di pasar gelap.
Sejak persoalan tersebut, nilai tukar Rial mulai stabil, meski inflasinya tetap tinggi. Di mana, saat ini inflasi tahunan Iran duduk di level 74,2 persen.
Korea Utara
Disfungsi moneter di Korea Utara disebabkan adanya permasalahan besaran inflasi yang cukup parah. Pada 2009, pemerintah Korea Utara berusaha mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan program reformasi mata uang di mana seperti program redenominasi yang akan memangkas dua digit pada nominal Won saat ini.
Pemerintah membatasi kuantitas jumlah Won lama yang bisa ditukar dengan yang baru. Program ini yang dipercaya membuat besaran inflasi di Korea Utara semakin besar dan nilai tukar menjadi runtuh.
Argentina
Argentina sekali lagi bergulat dengan musuh lamanya, inflasi. Sekarang, tampaknya sejarah akan segera terulang di mana negara ini bergoyang-goyang di ambang krisis mata uang lain. Kontrol modal dan neraca transaksi yang memburuk ditambah sejumlah kebijakan anti bisnis berakibat pada penekanan mata uang Argentina, Peso.
Saat ini, tingkat nilai tukar Peso terhadap USD pada perdagangan pasar luar negeri duduk di 8,2 per USD, nilainya 34 persen lebih rendah dibanding nilai tukar resmi. Sehingga jumlah ini mengakibatkan tingkat inflasi tahunan sebesar 24,8 persen.
Untuk saat ini, efek dari tingkat inflasi secara resmi disembunyikan oleh rezim price control (pengendalian harga) secara besar-besaran di Argentina. Pengendalian harga merupakan ketentuan pemerintah terhadap penetapan harga tertinggi suatu barang atau jasa guna mencegah kenaikan harga barang atau jasa tersebut.