Lewat WMM, Filsa perkenalkan peyek kepiting hingga ke luar negeri
Filsa keluar sebagai pemenang WMM Expo pada tahun 2015 silam. Sejak itu, produknya sudah mulai dikenal di tingkat nasional.
Di saat banyak institusi menawarkan program bantuan usaha untuk para pengusaha, Bank Mandiri memberanikan diri membidik anak muda sebagai targetnya melalui program CSR Wirausaha Muda Mandiri (WMM).
Program CSR WMM yang sudah bergulir sejak tahun 2007 ini mempunyai tujuan agar generasi muda menjadi generasi yang mandiri, sehingga bukan hanya menjadi generasi pencari kerja namun mampu menjadi generasi pencipta lapangan pekerjaan.
Di tahun ke-10 nya ini, Bank Mandiri telah berhasil menciptakan banyak wirausahawan muda yang sukses. Salah satunya adalah Filsa Budi Ambia. Anak muda yang berasal dari Balikpapan ini berhasil memasukkan produknya ke Carrefour di seluruh Indonesia.
Awalnya, Filsa melihat peluang usaha setelah melihat tetangganya yang biasa berjualan peyek kacang bangkrut dan putus asa. Kemudian Ia memberikan semangat namun tetangga tersebut tidak mau meneruskan usahanya.
Akhirnya, Filsa meminta untuk diajari membuat peyek kepada tetangga tersebut. Dia pun akhirnya meneruskan jualan peyek. Namun, usahanya tersebut ternyata menemui kebuntuan. Apa yang dialami oleh tetangganya mulai terjadi kepada Filsa.
"Banyak return (pengembalian) dari toko-toko yang dititipin," kata Filsa, di acara WMM Expo di Botani Square, Bogor, Jumat (10/3).
Dari situ Filsa berpikir bahwa harus ada inovasi yang baru agar konsumen tidak bosan dengan peyek kacang yang sudah umum dan bisa ditemukan di mana saja.
Hidup di lingkungan pesisir, tepatnya Kampung Timur, Filsa sudah biasa bergaul dengan para nelayan di daerah tempat tinggalnya. Suatu hari, Filsa mendengar keluhan para nelayan yang menyatakan bahwa kepiting hasil tangkapan mereka banyak yang gagal ekspor sehingga mereka kebingungan.
"Daerah saya kaya akan hasil laut, terutama kepitingnya. Kepiting banyak yan gagal ekspor, kalau ekspor kan syaratnya banyak banget, kaki patah satu gak mau terima. Nelayan mereka bingung ini mau dikemanain kepiting yang begini padahal jumlahnya banyak banget. Lalu saya bilang ya udah sini saya coba produksi gimana saya kembangkan peyek dengan kepiting," ujar Filsa.
Awalnya, Filsa sempat pesimis dengan idenya karena hanya dengan mendengar namanya saja peyek kepiting menurutnya bisa buat orang geli.
"Awalnya saya juga geli denger peyek kepiting tapi yau udah ya coba dulu. Pertama buat saya buat dikecilin biar kayak snack bisa dibawa kemana-mana. Lalu saya bikin status di sosmed, temen-temen responnya 'ih apa itu' tapi ternyata mereka suka," terang Filsa.
Produk hasil eksperimen Filsa ternyata disukai oleh teman-temannya. Filsa mulai kebanjiran orderan. Yang biasanya Ia menjual peyek kacang dengan harga Rp 3 ribu Filsa mulai berjualan peyek kepiting dengan harga Rp 20 ribu
Meski hanya berkemasan plastik transparan biasa, produk Filsa sudah mulai menjadi perbincangan. Kemudian, ada orang yang menawarkan dan mengenalkan program WMM kepada Filsa.
Filsa keluar sebagai pemenang WMM Expo pada tahun 2015 silam. Sejak itu, produknya sudah mulai dikenal di tingkat nasional.
"Dampak yang saya rasakan dari program WMM adalah aksleresi (percepatan) saya jadi makin cepat dikenal. Pembinaannya juga bagus. Kita dibina dan dikasih tahu cara bikin kemasan yang bagus. Permodalan juga gampang karena kita diprioritaskan," terang Filsa.
Saat ini, produk Filsa sudah dipasarkan di beberapa bandara dan sering dijadikan sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke luar negeri.(mdk/hrs)