Laris Hingga Swiss, Penjual Kain Tenun Tapanuli Sukses Raup Puluhan Juta
Lewat pameran yang diselenggarakan Bank Indonesia bertajuk Karya Kreatif Indonesia (KKI) kain tenun asal daerah tersebut ditawarkan mulai dari Rp 1 juta sampai dengan Rp 9 juta. Kain tenun asal Tapanuli ini juga sudah merambah ke pasar luar negeri seperti Kuala Lumpur dan Swiss.
Kain tenun tradisional Indonesia memiliki ciri khas yang unik dan beragam. Kain tenun ini juga memiliki harga jual yang berbeda di masing-masing daerah. Seperti misalnya kain tenun asal daerah Tapanuli, Provinsi Sumatera Utara.
Lewat pameran yang diselenggarakan Bank Indonesia bertajuk Karya Kreatif Indonesia (KKI) kain tenun asal daerah tersebut ditawarkan mulai dari Rp 1 juta sampai dengan Rp 9 juta.
"Ada yang Rp 1,5 juta. Yang dipajang ini Rp 9 juta. Motifnya ulos banget. Warnanya cantik," kata Owner Dame Uloe, Renny Manurung, saat ditemui di lokasi pameran, JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7).
Renny mengatakan harga yang ditawarkan tersebut tergantung waktu proses pembuatan dan motif yang dikeluarkan. Semakin lama, proses penenunan maka harga yang ditawarkan pun semakin mahal pula.
"Iya karena kalau lama artinya motifnya juga rumit. Makanya mahal. Kadang satu motif ini hanya satu. Jadi semakin lama pembuatan semakin mahal. Soalnya bikin kayak gini tidak boleh buru-buru. Yang Rp 9 juta ini buatnya 4 bulan," imbuhnya.
Renny menambahkan, selain biasa mengikuti ajang pameran dan membuka pasar di dalam negeri, kain tenun asal Tapanuli ini juga sudah merambah ke pasar luar negeri seperti Kuala Lumpur dan Swiss. "Swiss itu dia memang ada jual kain-kain nusantara. Nah salah satunya yang dijual punya (kita) Dame Ulos," katanya.
Namun sayang, persoalan yang kerap ditemui di Dame Ulus sendiri adalah masalah bahan baku seperti benang katun. Dia mengaku untuk mendapatkan benang katun tersebut masih harus impor dari India.
Kendati begitu, omzet penjualan untuk kain tenun miliknya dalam sebulan bisa mencapai hingga puluhan juta. Dirinya pun tidak bisa memastikan angkanya, sebab pendapatan itu tergantung dari tingkat pembelinya sendiri.
"Tidak tentu. Karena tergantung kalau lagi pameran gini, bisa banyak yang terjual. Dari kemarin, sudah ada beberapa yang terjual," katanya.
Baca juga:
Intip Strategi Bisnis Pria Tamatan SMA Raup Omzet Rp600 Juta per Bulan
Neraca Perdagangan Migas Defisit, Arcandra Sebut Lebih Banyak Dipakai Dalam Negeri
Semester 1-2019, Pemerintah Impor 1,2 Juta Ton Garam Industri
Ketika Pabrikan China DFSK dan Wuling Mulai Ekspor Mobil 'Made in Indonesia'
Tiga BUMN Sinergi Kembangkan Industri Tekstil di Tanah Air
Tingkatkan Daya Saing, Jokowi Minta UMKM Lokal Pertahankan Ciri Khas Produk
Rambah Digital dan Pasar Ekspor, UMKM Binaan BI Raup Nilai Transaksi Rp1,4 Triliun