Lahan pertanian terbatas, Sumbar butuh penggerak ekonomi baru
Perekonomian wilayah Sumatera Barat (Sumbar) membutuhkan penggerak sumber ekonomi baru, di luar sektor pertanian. Ini diperlukan karena industri pertanian sulit dikembangkan lagi akibat keterbatasan lahan. Mengingat, mayoritas lahan di Sumbar adalah daerah perbukitan dan pegunungan.
Perekonomian wilayah Sumatera Barat (Sumbar) membutuhkan penggerak sumber ekonomi baru, di luar sektor pertanian. Ini diperlukan karena industri pertanian sulit dikembangkan lagi akibat keterbatasan lahan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Barat, Endy Dwi Tjahjono mengatakan, mayoritas lahan di Sumbar adalah daerah perbukitan dan pegunungan.
"Susah lahannya untuk pertanian, karena daerahnya perbukitan seperti itu," ujarnya kepada wartawan di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (24/2).
Endy menyebut, ada satu sektor yang memiliki potensi besar untuk bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Sumbar, yakni sektor pariwisata yang hingga kini belum dibangun dan dibenahi secara maksimal.
Menurutnya, sektor pariwisata di Sumbar belum maksimal lantaran minimnya investor yang masuk. Investasi di sektor pariwisata Sumbar masih berskala kecil. "Yang potensial itu pariwisata, potensinya besar tapi belum banyak investor masuk ke sini yang skala besar," imbuh dia.
Sejauh ini, wilayah Sumatera menyumbang 20 persen untuk pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara wilayah Padang menyumbang sekira 7 persen terhadap Sumatera. Dia mengakui, pertumbuhan ekonomi Sumbar memang masih kecil. Namun, bila investor skala besar masuk ke wilayah ini, ekonomi Padang akan tumbuh lebih baik.
"Dengan investor skala besar ekonomi Sumbar bisa tumbuh lebih tinggi lagi," tutupnya.
Baca juga:
Program padat karya sektor penerbangan ditargetkan serap 12.000 pekerja
Jadi bandara hub, Adi Soemarmo dibangun terminal baru dan perpanjang runway
DPR nilai keputusan moratorium proyek infrastruktur terlambat
Harga minyak dunia naik ditopang penurunan produksi Libya
Dana pemulihan Blok East Kalimantan tak lagi jadi tanggung jawab Chevron