Kurs Rupiah Merosot, Siap-Siap Harga Pangan Segera Naik
Melemahnya mata uang Rupiah perlu diwaspadai semua pihak. Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS), Setianto mengatakan pergerakan nilai tukar bisa mempengaruhi harga pangan yang masih diimpor.
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Per 1 Desember, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS atau USD sudah mencapai Rp15.538.
Melemahnya mata uang Rupiah perlu diwaspadai semua pihak. Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS), Setianto mengatakan pergerakan nilai tukar bisa mempengaruhi harga pangan yang masih diimpor.
"Pengaruh pergerakan nilai tukar ini akan mempengaruhi pasokan (pangan) yang masih impor," kata Setianto dalam konferensi pers, Jakarta, Kamis (1/12).
Salah satu produk makanan yang berasal dari olahan kedelai seperti tahu dan tempe. Sumber protein yang paling terjangkau masyarakat ini berpotensi mengalami kenaikan harga karena mayoritas kedelai masih impor.
"Kedelai impor ini sangat tergantung dengan nilai tukar rupiah karena sebagian besar impor," kata dia.
Selain itu, produk pangan turunan kedelai mengalami kenaikan harga dalam 3 bulan terakhir. Bahkan secara tahunan harga komoditas tahu meningkat 12,43 persen dan tempe sebesar 13,56 persen.
"Kalau dilihat dari portal chicago board of trade, tren kenaikan harga kedelai sejak September 2022" kata dia.
Impor Daging Sapi
Selain impor kedelai, harga daging sapi juga berpotensi mengalami kenaikan. Mengingat Indonesia masih mengimpor daging sapi dari luar negeri untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Meskipun di bulan November 2022, harga daging sapi mengalami deflasi. Namun, berdasarkan historisnya, menjelang perayaan natal dan tahun baru (nataru) terjadi peningkatan permintaan dari masyarakat.
"Jadi dinamika nilai tukar ini mempengaruhi harga pangan kita yang sebagian besar masih impor," kata dia.
(mdk/idr)