Kurs Rupiah Menguat Tipis Dibayangi Kekhawatiran Dampak Perang Rusia-Ukraina
Rupiah bergerak menguat 22 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp14.360 per USD dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.382 per USD.
Nilai tukar atau kurs Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi menguat dibayangi kekhawatiran dampak perang di Ukraina.
Rupiah bergerak menguat 22 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp14.360 per USD dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.382 per USD.
"Nilai tukar Rupiah masih berpeluang melemah hari ini terhadap dolar AS, meskipun sentimen pasar sudah terlihat lebih positif terhadap aset berisiko," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Selasa (1/3).
Menurut dia, pelaku pasar masih mengkhawatirkan dampak negatif perang di Ukraina terhadap perekonomian global.
Ariston menilai, Rusia masih jauh dari kata mundur. Rusia terlihat masih berupaya masuk ke ibukota Ukraina. Perang kelihatannya belum akan berakhir dan upaya diplomasi belum berhasil.
Sanksi Ekonomi
Sanksi ekonomi yang lebih berat yang diterapkan oleh AS dan sekutunya kepada Rusia, belum menyurutkan langkah Rusia untuk terus menyerang Ukraina.
"Perang yang lebih lama dikhawatirkan akan berdampak negatif ke perekonomian global. Kenaikan harga energi dan komoditi yang mendorong inflasi bisa menekan pemulihan ekonomi," ujarnya
Dari dalam negeri, data inflasi dan indeks PMI aktivitas manufaktur Februari akan dirilis pada hari ini. Inflasi yang tinggi dan data PMI yang di bawah ekspektasi, lanjutnya, berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan begitu pula sebaliknya.
"Inflasi yang tinggi bisa menurunkan daya beli masyarakat dan menekan pertumbuhan ekonomi," katanya.
Ariston memperkirakan rupiah hari ini berpotensi bergerak ke arah Rp14.400 per USD dengan support di kisaran Rp14.350 per USD.
(mdk/idr)