Kubu Prabowo-Sandi nilai upaya pemulihan ekonomi pemerintah Jokowi tak maksimal
Hal penting yang harus dilakukan pemerintah dalam menekan laju depresiasi nilai tukar Rupiah adalah dengan membenahi kondisi perekonomian domestik. Menurut dia, dengan memperbaiki kualitas perekonomian dalam negeri, tentu Indonesia dapat lebih tahan ketika terjadi ketidakpastian ekonomi global.
Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Handi Risza Idris, mengatakan hal penting yang harus dilakukan pemerintah dalam menekan laju depresiasi nilai tukar Rupiah adalah dengan membenahi kondisi perekonomian domestik. Menurut dia, dengan memperbaiki kualitas perekonomian dalam negeri, tentu Indonesia dapat lebih tahan ketika terjadi ketidakpastian ekonomi global.
"Stabilitas dipengaruhi beberapa faktor, eksternal dan internal. Itu faktor eksternal itu kita tidak bisa kita kontrol, tapi harus dilihat PR internal yang harus dikerjakan dalam beberapa tahun," kata dia, dalam diskusi, di Jakarta, Sabtu (20/10).
Beberapa kebijakan yang menurut dia dapat dijalankan oleh pemerintah di tengah depresiasi Rupiah adalah memperkuat ekspor serta ketahanan industri nasional. Meski telah dilakukan, namun, upaya pemerintah dinilai belum maksimal.
"Internal ada bauran kebijakan, ada hal diperbaiki tapi belum maksimal," kata dia.
Jika ekspor Indonesia bagus, maka meskipun Rupiah melemah, tapi Indonesia tetap bisa mendapatkan keuntungan dari naiknya nilai ekspor. "Contoh, ketika Rupiah melemah harusnya dampaknya bisa kita ambil keuntungan, harusnya ekspor kita melonjak, karena produksi pakai Rupiah tapi ekspor pakai Dolar. Itu tidak terjadi tapi peningkatan impor jauh lebih tinggi," tandasnya.
Baca juga:
Kedelai impor tengah murah, harga tahu tempe aman dari kenaikan meski Rupiah melemah
Rupiah melemah, pedagang pasar prediksi harga bakal terus naik hingga tahun depan
Nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp 15.194 per USD
Karding sebut pelemahan Rupiah karena faktor eksternal bukan internal
Bursa Berjangka Jakarta masih perkasa hingga 2019 meski Rupiah tertekan
Asumsi nilai tukar 2019 menjadi Rp 15.000/USD, pendapatan negara bertambah Rp 10,3 T
Asumsi Rupiah 15.000 per USD di 2019 dinilai masih realistis