Kuartal III Rugi Rp9,9 T, ExxonMobil Bakal PHK Ribuan Karyawan
ExxonMobil, perusahaan minyak terbesar dunia asal AS, kembali mencatatkan kerugian di kuartal ketiga tahun ini. Kondisi merugi ini terus terjadi akibat dampak pandemi Covid-19. Di mana, permintaan dan harga energi terus menurun sejak kuartal pertama tahun ini.
ExxonMobil, perusahaan minyak terbesar dunia asal AS, kembali mencatatkan kerugian di kuartal ketiga tahun ini. Kondisi merugi ini terus terjadi akibat dampak pandemi Covid-19. Di mana, permintaan dan harga energi terus menurun sejak kuartal pertama tahun ini.
Dilansir dari Reuters, pada kuartal ketiga Exxon mencatatkan kerugian sebesar USD 680 juta atau Rp9,9 triliun. Padahal periode yang sama tahun lalu perusahaan ini bisa membukukan keuntungan mencapai USD 3,17 miliar. Hingga Jumat (30/10), harga saham Exxon ditutup turun 1 persen di USD 32,62.
"Exxon tidak mendapatkan keuntungan yang sama dari pemasaran yang kuat seperti yang dilihat beberapa perusahaan lain. Dan bisnis eksplorasi terus melemah," kata Anish Kapadia, Direktur Palissy Advisors yang berbasis di London.
Sementara itu, produksi minyak Exxon turun 5,8 persen menjadi 3,67 juta barel setara minyak per hari pada kuartal tiga. Sebab, Organisasi Negara Pengekspor Minyak membatasi produksi dan perusahaan menarik kembali produksi di area lain karena harga rendah.
Tak hanya itu, di kegiatan eksplorasi Exxon juga merugi USD 383 juta atau Rp5,5, triliun. Tahun lalu, perusahaan berhasil meraup untuk di lini bisnis eksplorasi mencapai USD 2,2 miliar.
Pangkas Belanja dan PHK Karyawan
Kondisi ini membuat Exxon memangkas rencana investasi mereka tahun depan. Awalnya, perusahaan ini menganggarkan USD 23 miliar tahun ini untuk investasi.
Sampai oktober perusahaan baru menghabiskan USD 16,5 miliar. Tahun depan perusahaan memutuskan hanya mengalokasikan USD 16-19 miliar untuk investasi.
Pada Minggu ini, Exxon mengatakan akan memangkas tenaga kerjanya sekitar 15 persen dan berusaha mempertahankan dividen kuartal keempat tetap di USD 87 sen per saham.
Reporter Magang: Brigitta Belia
(mdk/bim)