Kredit macet BCA naik di 2016
"Meskipun mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 0,7 persen, namun NPL BCA masih di bawah rata-rata industri perbankan dari tahun yang berada pada level 2,9 persen," kata Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) 1,3 persen di 2016 lalu. Angka ini naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya 0,7 persen.
"Meskipun mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 0,7 persen, namun NPL BCA masih di bawah rata-rata industri perbankan dari tahun yang berada pada level 2,9 persen," kata Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja di Jakarta, Senin (13/3).
Jahja menjelaskan, NPL korporasi naik dari 0,3 persen ke 0,8 persen di tahun 2016. Sementara NPL komersial naik dari 1,1 persen tahun 2015 menjadi 2,1 persen tahun 2016. NPL konsumer naik dari 0,7 persen ke 0,8 persen 2016.
"NPL itu terbanyak dari komersial dan UKM, karena disebabkan oleh ada NPL di jasa angkutan laut domestik, di sektor batu bara," tuturnya.
Sementara untuk pada tahun 2016 menurut Jahja, beban cadangan kredit bermasalah sebesar Rp 12,5 triliun meningkat 38,5 persen dibandingkan tahun 2015.
"Dengan begitu rasio cadangan bermasalah terhadap kredit bermasalah tercatat sebesar 229,4 persen. Untuk permodalan dan likuiditas BCA tetap terjaga dengan rasio kecukupan modal sebesar 22,9 persen dan rasio kredit terhadap pendanaan sebesar 77,1 persen tahun 2016," tutupnya.
Baca juga:
Laba BCA naik 14 persen jadi Rp 20,6 triliun di 2016
Keenam kalinya, AFI diguyur kredit Rp 300 miliar dari BCA
Kuartal III-2016, laba bersih BCA capai Rp 15,1 triliun
BCA catat 10 juta transaksi dari 9,5 juta kartu Flazz per bulan
BCA gandeng perusahaan Jepang perkuat bisnis kartu kredit