Konflik Rusia-Ukraina dan Dampaknya ke Ekonomi Indonesia
Rusia merupakan negara pengekspor gas terbesar ke Eropa. Akibat perang ini, pasokan barang pun terganggu. Bagi Indonesia, impor produk bahan baku pembuatan pupuk dari Rusia juga besar. Bahkan 40 persen bahan baku pupuk di pasar global dipasok dari Rusia.
Konflik Rusia-Ukraina sejak Februari lalu memberi dampak ke hampir semua negara, termasuk Indonesia. Banyak pihak memprediksi konflik dua negara tersebut makin rumit dan membuat situasi semakin sulit. Apalagi kedua negara ini menguasai perdagangan besar sektor energi.
"Perang mereka ini sangat besar pengaruhnya di bidang energi," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani dalam webinar bertajuk: Harga Kian Mahal: Recovery Terganggu?, Jakarta, Kamis (7/4).
Dia menjelaskan, Rusia merupakan negara pengekspor gas terbesar ke Eropa. Akibat perang ini, pasokan barang pun terganggu. Bagi Indonesia, impor produk bahan baku pembuatan pupuk dari Rusia juga besar. Bahkan 40 persen bahan baku pupuk di pasar global dipasok dari Rusia.
"Bahan pupuk Rusia juga besar menguasai 40 persen ekspor pupuk dunia," kata dia.
Saat ini, harga minyak dunia sangat fluktuatif, pernah mencapai level tertinggi USD 120 per barel. Namun per hari ini, Hariyadi mengatakan harganya kembali ke level USD 103 per barel. Sementara Rusia juga menjadi pemain di sektor energi ini.
"Rusia juga ada ekspor batu bara dan gas," kata dia.
Ukraina Produsen Minyak Nabati
Begitu juga dengan Ukraina yang menjadi produsen minyak nabati dari bunga matahari dan gandum. Invasi yang dilakukan Rusia membuat produksi minyak nabati Ukraina terganggu. Akibatnya permintaan CPO dari kelapa sawit meningkat.
"Minyak nabati dari Ukraina ini mengganggu CPO, dan CPO sekarang harganya sudah mendekati USD 2.000 per tonnya," kata dia.
Tak hanya itu, kebutuhan gandum di Indonesia juga banyak berasal dari Ukraina. "Kita beli gandum dalam jumlah besar (dari Ukraina)," kata dia.
Tak pelak, gejolak politik tersebut telah mengganggu stabilitas kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia. Konflik tersebut juga telah membuat komoditas kedelai naik.
Harga daging merah juga naik akibat pasokan dunia yang terganggu. Ditambah terjadi kebakaran hutan di Australia sehingga menyebabkan penurunan produksi. "Semua itu terjadi bertepatan dengan bulan Ramadan jadi kurang menguntungkan," kata dia.
(mdk/idr)