Kompleksitas data naik, kegiatan bisnis makin terganggu
Kompleksitas tersebut juga menyebabkan kerugian akibat pusat data yang terganggu sebesar Rp 49 miliar.
Aplikasi teknologi informasi di perkantoran Indonesia yang semakin rumit telah membebani jasa pelayanan data. Hal tersebut mengakibatkan gangguan pusat data yang bisa merugikan perusahan hingga USD 5,1 juta (Rp 49 miliar).
Survei yang dilakukan oleh Symantec mengungkapkan bahwa dari 2.000 responden, 87 persen di antaranya menyatakan bahwa jumlah aplikasi bisnis yang makin bervariasi mendorong kompleksitas fasilitas teknologi informasi.
Regional Senior Director, System Engineering & Alliances, ASR, Symantec Corp Raymond Goh mengatakan kompleksitas data tersebut menyebabkan gangguan pusat data rata-rata 16 kali dalam 12 bulan terakhir. Gangguan tersebut memakan biaya total USD 5,1 juta di Indonesia.
"Penyebab paling umum ini karena kegagalan sistem, kesalahan manusia serta bencana alam," ungkap Raymond di Jakarta, Kamis (22/11).
Beberapa aplikasi yang menyebabkan kerumitan data tersebut antara lain adalah virtualisasi server, komputasi mobile, dan virtualisasi storage.
Raymond menambahkan, dampak lain dari kompleksitas data ini adalah berkurangnya kelincahan, waktu pencarian informasi jadi lama, waktu pengiriman untuk migrasi penyimpanan yang lebih lama, kehilangan atau kesalahan penempatan data, downtime, waktu pengiriman untuk penempatan penyimpanan yang lebih lama.
Dari survei yang dilakukan Symantec menyebutkan 79 persen tingkat kompleksitas data di perusahaan di dunia juga mengalami peningkatan rata rata 6,7. Rata rata di Amerika kompleksitas tertinggi sebesar 7,8 dan Asia Pasifik/Jepang menilai terendah yaitu 6,2.
(mdk/rin)