Kisah Bos Se'i Sapiku Indonesia, Bangkit di Tengah Pandemi dan Pekerjakan Korban PHK
Berbisnis di masa Pandemi dengan penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang terus mengalami perpanjangan waktu, membuat pelaku usaha kecil menengah (UKM) harus super kreatif. Tentunya demi peningkatan penjualan dan perolehan laba yang sesuai, agar usaha yang dijalankan tidak malah gulung tikar.
Berbisnis di masa Pandemi dengan penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang terus mengalami perpanjangan waktu, membuat pelaku usaha kecil menengah (UKM) harus super kreatif. Tentunya demi peningkatan penjualan dan perolehan laba yang sesuai, agar usaha yang dijalankan tidak malah gulung tikar karena melemahnya daya beli masyarakat.
"Kita tidak boleh pasrah terhadap kondisi saat ini, seharusnya kita lebih kreatif dan inovatif agar usaha kita bisa tetap berjalan," terang pemilik usaha Se'i Sapiku Indonesia, Muhamad Taslim Rachim ditemui di saat pembukaan gerai resto di BSD Tangerang Selatan, Senin (21/9).
Sebagai pengusaha kuliner, Taslim sebelumnya mengaku sempat sangat terpukul dengan kondisi Pandemi, yang memaksa gerai restorannya tidak beroperasi. "Waktu itu sangat bingung, saya berpikir ini (usaha) selesai. Dan hampir semua pengusaha kuliner menjual makanan dalam bentuk frozen (beku), dari situ ada harapan. Artinya peluang selalu ada," ucap pria 28 tahun ini.
Dari harapan itu, dia bertekad tidak merumahkan sementara dan tetap mempekerjakan seluruh pekerjanya yang ada. Sehingga aktivitas usahanya bisa tetap berjalan dengan mengandalkan jualan makanan beku.
"Kemudian teman-teman online (ojol) minta agar menjual matang, dengan konsep take away. Akhirnya penjualan berangsur pulih. Meski jauh merosot dari kondisi normal," ungkap dia.
Meski begitu, dia tetap optimis dalam menjalankan roda usaha kuliner yang digelutinya. Dia berkeyakinan kegiatan usaha yang dijalankannya saat ini, lebih banyak membawa manfaat bagi karyawan dan pengemudi ojek online.
"Mungkin pengusaha lain malah berpikir aneh, karena membuka cabang di masa sulit. Tapi itu saya lakukan karena niat saya ingin membantu mereka yang menganggur akibat Covid-19. Bapak-bapak ojol, juga punya order dari usaha ini," ungkapnya.
Dia mengaku, saat membuka 30 lowongan pegawai untuk gerai restonya di BSD, ada sekitar 700 pelamar yang datang. "Hari ini semua orang merasakan begitu sulit mencari uang, pekerja banyak yang di PHK (pemutusan hubungan kerja). Biarpun penjualan tidak sebagus dulu, tidak masalah biar sedikit asal lancar dan berkah," ucap dia.
Sementara itu, Vivi Nadya Putri, pekerja yang sebelumnya menjadi korban PHK akibat Pandemi Covid-19, mengaku sangat bersukur bisa diterima bekerja di masa sulit sekarang ini.
"Alhamdulillah banget, karena bukan cuma saya yang di PHK karena Covid-19 ini, suami saya yang bekerja sebagai sekuriti di Blue Bird juga di PHK. Sekarang saya tulang punggung keluarga," ucap dia
Sebelumnya, Ibu satu anak ini mengakui sangat kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari. Dia dan suaminya mengaku, sudah sangat frustasi menjalani kehidupan. "Kemarin itu, saya dan suami sangat berat menjalani hari-hari. Kebutuhan banyak, tapi pemasukan engga ada. Bingung, untungnya saya diterima jadi ada pemasukan lagi," kata dia.
(mdk/azz)