Kerja Sama dengan 4 Negara, Transaksi LCS Bukukan Rp 36 T Sepanjang 2021
Transaksi LCS mencapai USD 2,53 miliar atau Rp 36,18 triliun (asumsi kurs Rp 14.300) di sepanjang tahun lalu. Angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2020 sebesar USD 797 juta.
Bank Indonesia (BI) melaporkan, nilai transaksi penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Settlement/LCS mengalami peningkatan pesat di 2021 lalu.
Transaksi LCS mencapai USD 2,53 miliar atau Rp 36,18 triliun (asumsi kurs Rp 14.300) di sepanjang tahun lalu. Angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2020 sebesar USD 797 juta.
"Pada 2021, transaksi LCS mencapai sekitar USD2,5 miliar. Untuk tahun ini kami menargetkan naik sebesar 10 persen," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam acara Finance Track KTT G20 di Jakarta, Rabu (16/2).
Perry merinci, penggunaan LCS tersebut terbesar dari transaksi interbank yang mencakup 50 persen dari total transaksi tahun lalu. Kemudian, sektor perdagangan mencakup 35 persen dari total transaksi, diikuti penggunaan untuk remitansi sebesar 14 persen dan investasi secara langsung sebesar 1 persen.
Saat ini, Bank Indonesia baru memiliki kerja sama LCS dengan empat negara mitra dagang utama RI, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, dan China.
Ke depan, bank sentral berkomitmen memperluas penggunaan LCS sebagai sarana penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi bilateral dengan negara-negara mitra dagang utama, terutama di Asia.
Sri Mulyani Dorong Penerapan LCS Ciptakan Pemerataan Pemulihan Ekonomi Dunia
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mendorong, penggunaan mata uang lokal antar negara atau Local Currency Settlement (LCS) anggota KTT G20. Tujuannya, mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS untuk pemulihan ekonomi bersama di tengah ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.
"LCS dapat menciptakan jaring pengaman keuangan atau transaksi keuangan antar negara dan mengurangi risiko kerentanan, akibat guncangan ekonomi global yang menyebabkan ketidakstabilan keuangan," katanya dalam acara Finance Track KTT G20 di Jakarta, Rabu (16/2).
Menteri Sri Mulyani menyampaikan, melalui penggunaan LCS mengurangi ketergantungan yang besar terhadap mata uang Dolar AS. Sehingga, dapat menciptakan stabilitas hubungan perdagangan dan investasi yang lebih baik antara negara-negara anggota G20, termasuk Indonesia.
Penggunaan, mata uang lokal juga menyebabkan biaya transaksi yang lebih rendah. Ini karena dalam hal ini, pedagang tidak perlu mengkonversi mata uangnya ke nilai tukar Dolar AS," imbuhnya.
Oleh karena itu, pemerintah telah memasukkan pembahasan mengenai perluasan kerja sama mata uang lokal atau LCS ke dalam agenda global KTT G20.
"Karena penggunaan yang lebih luas dari penyelesaian mata uang lokal di antara negara sangat relevan dengan prioritas Presidensi G20 di jalur keuangan, yaitu exit strategy untuk mendukung pemulihan," tutupnya.
(mdk/bim)