Kementerian BUMN Heran Jiwasraya Nekat Sponsori Manchester City Saat Keuangan Buruk
Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengungkapkan keheranan ketika perusahaan asuransi Jiwasraya nekat mengubah laporan keuangan demi menjadi sponsor salah satu klub sepakbola, Manchester City. Padahal, menurut Arya, kinerja Jiwasraya sudah "jelek" dan harusnya tidak melakukan hal demikian.
Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengungkapkan keheranan ketika perusahaan asuransi Jiwasraya nekat mengubah laporan keuangan demi menjadi sponsor salah satu klub sepakbola, Manchester City. Padahal, menurut Arya, kinerja Jiwasraya sudah "jelek" dan harusnya tidak melakukan hal demikian.
"Kalau kita lihat posisi (laporan keuangan) 2014 posisi Jiwasraya jelek. Dia masih bisa backup dirinya jadi sponsor klub Manchester City," ujar Arya di Kementerian BUMN, ditulis Jumat (27/12).
Dia juga mempertanyakan langkah perusahaan yang seharusnya pembayaran klaim nasabah menggunakan hasil investasi, bukan dari premi-premi nasabah yang baru. "Itu namanya gali lubang tutup lubang," imbuhnya.
Menurutnya, agar operasional Jiwasraya bisa terselamatkan, maka jalan keluarnya adalah membentuk holding BUMN asuransi yang sedang diproses dan ditargetkan selesai pada kuartal 1 atau 2 tahun depan. Kemudian, alternatif lainnya adalah menjual aset keuangan perusahaan terutama saham dengan nilai undervalue.
"Kita akan jual aset saham undervalue, itu nilainya bisa Rp5 triliun ke atas. Kita harapkan Rp5,6 triliun atau hampir Rp6 triliun," ujarnya.
Gandeng Manchester City di 2014
Di tahun 2014, Jiwasraya mengganti logo dan menggaet klub sepak bola Manchester City untuk rebranding perusahaan. Hal ini dilakukan setelah Jiwasraya terlepas dari beban utang Rp6,7 triliun.
Perusahaan yang telah berusia 155 tahun ini, mencatat pertumbuhan premi dari Rp3,2 triliun di 2013, menjadi Rp4 triliun di 2014. Laba dari Rp31 miliar menjadi Rp151 miliar, investasi Rp8,8 triliun menjadi Rp15,2 triliun, hasil investasi dari Rp806 miliar menjadi Rp1 triliun dan klaim dari Rp2,9 triliun jadi Rp3,1 triliun.
Perseroan yang memiliki 6,5 juta nasabah ini, menyelesaikan utang dengan pola reasuransi, menggandeng perusahaan Amerika Serikat dan melakukan reevaluasi aset untuk tujuan komersil. Jiwasraya juga mengklaim berhasil menyelesaikan cadangan premi yang menjadi kewajiban perusahaan pada akhir 2013. "Beban utang diselesaikan sendiri dalam waktu 4 tahun," ujar Dahlan Iskan di Jakarta, Senin (13/10).
Direktur Utama Jiwasraya, Hendrisman Rahim menegaskan logo anyar tersebut, sebagai simbol keteguhan hati perseroan, untuk tetap eksis dalam industri asuransi. "Di usia 155 tahun, kami berhasil menyelesaikan utang kewajiban perusahaan," katanya.
Reporter: Athika Rahma
Sumber: Liputan6.com
(mdk/azz)