Kemenkeu mulai gerah dengan mobil murah
Menkeu berkirim surat ke menteri perindustrian pertanyakan ulah mobil murah masih minum BBM subsidi.
Kementerian Keuangan mulai gerah dengan mobil murah yang masih saja mengonsumsi bensin subsidi beroktan rendah. Padahal, pemerintah sudah membuat aturan main bahwa mobil murah diharuskan menenggak pertamax alias BBM non-subsidi.
"Kita baru kirim surat permintaan kepada kementerian perindustrian, efektivitasnya seperti apa. Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) kan diminta untuk BBM non-subsidi, jadi ditanya itu penggunaannya seperti apa," kata Menteri Keuangan Chatib Basri di kantornya, Jakarta, Jumat (21/3).
Sejatinya, sejak awal mobil murah diluncurkan, tahun lalu, Kemenkeu sudah mewanti-wanti Kementerian Perindustrian untuk memastikan mobil murah hanya mengonsumsi BBM non-subsidi. Jika tidak, dipastikan mobil seharga di bawah Rp 100 juta itu bakal berkontribusi besar terhadap jebolnya anggaran dan volume BBM subsidi tahun ini.
"Kalau dari segi sales, kita enggak tanya. itu bagian Kemenperin. Tapi kita mau lihat dari segi penggunaan subsidi BBM. Karena pada waktu itu dibuat untuk BBM non-subsidi. Kalau misalnya tidak (sukses), apa langkah yang dilakukan untuk itu," kata Chatib.
Sayangnya, menkeu tak berani menghapus insentif pajak mobil murah. Jika seandainya, mobil murah masih saja mengonsumsi bahan bakar yang "diharamkan".
"Itu mesti di-review lagi, saya mesti duduk dengan Kemenperin. Mungkin pengaturan mesin yang harus non-subsidi," ungkapnya.
Sebelumnya, Presiden Direktur Toyota Astra Motor Johnny Darmawan menyatakan bahwa ketakutan pemerintah bahwa mobil murah bakal menyedot habis BBM subsidi tak terbukti. Soalnya, penjualan mobil murah masih belum sesuai target.
Penjualan mobil murah baru berkisar 13 ribu unit-15 ribu unit per bulan. Itu baru mencakup 4,16 persen dari total penjualan mobil nasional. "Jadi menurut saya yang ditakutkan pemerintah DKI tidak terbukti," kata Johnny.
Mobil murah paling laris adalah Toyota Agya yang terjual lebih dari 4 ribu unit per bulan. Disusul Daihatsu Ayla 3.700 unit, serta Honda Brio Satria 3 ribu unit.
Pembelinya didominasi oleh konsumen yang sejatinya sudah memiliki mobil. Padahal, pembeli mobil murah diharapkan datang dari konsumen yang sehari-hari berkendara motor
"Target new entry belum sukses, baru 20 persen-25 persen itu pembeli baru. Selebihnya 75 persen-80 persen pembeli adalah customer kita juga, yang biasa membeli compact car, dan MPV. Padahal tujuan utamanya LCGC kan bagaimana dinikmati orang yang dulu naik motor," ungkapnya.
(mdk/yud)