Kemenkeu: 60 persen utang pemerintah dalam bentuk Rupiah
"Ada lah pengaruhnya karena dari kurs pasti ada depresiasi. Tapi, kita beruntung karena sekarang banyak yang Rupiah. Kalau Rupiah itu, pinjaman kita tidak terpengaruh depresiasi."
Direktur Strategi dan Portfolio Utang Ditjen PPR Kementerian Keuangan, Schneider Siahaan mengatakan, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat memberi sedikit pengaruh terhadap posisi utang luar negeri pemerintah. Meski demikian, dia mengatakan, dampaknya tidak terlalu besar karena komposisi utang pemerintah 60 persen dalam Rupiah.
"Ada lah pengaruhnya karena dari kurs pasti ada depresiasi. Tapi, kita beruntung karena sekarang banyak yang Rupiah. Kalau Rupiah itu, pinjaman kita tidak terpengaruh depresiasi," ujar Schneider di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (21/8).
"Porsi FX Swap terhadap total utang sudah 40 persen, jadi lebih banyak Rupiahnya. Sekarang sekitar 60 persen Rupiah, sudah besar. Perkiraan kita porsi Rupiah 60 persen sampai akhir tahun," sambungnya.
Schneider mengatakan, jumlah utang pemerintah dalam bentuk USD dari tahun ke tahun selalu berkurang. Bahkan tahun depan, Schneider menargetkan porsi pinjaman dalam bentuk dolar akan dijaga di 30 persen.
"2019 dijaga di 30 persen. Kalau dari studi-studi yang ada, 60 persen (Rupiah) dari PDB masih oke. Kami itu maksimal 3 persen defisit setiap tahun, itu untuk negara berkembang. Kita di bawah itu semua, jauh. Kalau ditanya apakah itu aman, ya memang itu didesain supaya aman. Bu Menteri yang sekarang itu fokusnya keberlanjutan," jelasnya.
Baca juga:
Luhut soal cicilan utang RI Rp 400 T: Kalau enggak mengerti jangan bicara
Kemenkeu: Utang dimanfaatkan untuk tingkatkan kesejahteraan masyarakat
Sri Mulyani-Zulkifli Hasan adu debat soal utang RI
Zulkifli Hasan soal utang RI: Kita tidak bisa menyalahkan masa lalu
Agar tak salahkan masa lalu, Demokrat minta pemerintah jujur soal utang
4 Jawaban menohok Sri Mulyani saat disentil soal utang Indonesia