Kemendag: Wabah Covid-19 Beri Kreativitas dalam Berusaha
Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga menilai pandemi Covid-19 tak melulu bicara soal dampak buruk. Sebab menurut dia, pandemi ini juga bisa memberikan kesempatan bagus bagi pembaharuan bisnis.
Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga menilai pandemi Covid-19 tak melulu bicara soal dampak buruk. Sebab menurut dia, pandemi ini juga bisa memberikan kesempatan bagus bagi pembaharuan bisnis.
"Wabah Covid-19 memberikan jalan bagi review efisiensi dan kreativitas dalam berusaha," kata dia dalam acara Webinar Memetakan Peluang Bisnis di masa Pandemi Covid-19, ditulis Minggu (29/11).
Dia berpendapat ada beberapa hal berkaitan dengan perdagangan dan bisnis pada masa pandemi, yaitu munculnya penggunaan teknologi digital secara massif, penataan interaksi sosial yang aman bagi kesehatan dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Selain itu pandemi menurutnya juga menguji fleksibilitas dan reliabilitas sebuah bisnis.
"Pada intinya, ini seperti sebuah review besar terhadap fleksibilitas dan reliabilitas sebuah bisnis, baik dalam konteks mikro maupun makro. Kita di review secara mendasar melalui wabah ini agar kita bisa merancang konsep bisnis yang bisa berjalan di konteks apapun," imbuhnya.
Menurutnya kreatifitas menjadi kunci. Dia menyebut bahwa teknologi digital memberikan jalan lebar bagi munculnya kreatifitas-kreatifitas dalam berbisnis, baik untuk memperbaharui bisnis lama maupun menggarap potensi bisnis baru. Kemendag juga melakukan review, terutama mengenai potensi ekspor baru yang selama ini belum digarap secara optimal yaitu ekspor produk digital dan produk berbasis teknologi.
"Korea Selatan bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari ekspor game online. Indonesia juga punya developer-developer yang kreatif dan luar biasa. Ini salah satu yang menjadi garapan Kemendag untuk didorong pengembangannya," ungkapnya.
Selain itu, pandemi juga memberikan kesempatan bagi evaluasi terhadap efisiensi bisnis. Selama ini Indonesia belum mencapai efisiensi bisnis yang optimal. Padahal efisiensi adalah bagian atau elemen terwujudnya daya saing yang kuat. Efisiensi ini juga yang menurutnya menjadi visi Presiden Joko Widodo.
Pembangunan Infrastruktur
Pembangunan infrastruktur adalah salah satu upaya agar sistem logistik Indonesia berjalan efisien. Demikian juga dengan penggunaan teknologi dan transformasi sistem ekonomi.
"Pada intinya, ada sistem besar yang terus diupayakan perubahannya dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pandemi ini justru menjadi salah satu katalisator bagi bisnis dan sistem ekonomi yang efisien tersebut," ujarnya.
Oleh karena itu, dia meminta pandemi harus dimaknai positif dan dijalani dengan optimis. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang relatif bisa melakukan mitigasi ekonomi dalam masa pandemi.
Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus yang cukup baik. Hingga November ini surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai lebih dari USD 17 Miliar. Indonesia juga diprediksi akan bangkit dengan cepat dibandingkan dengan negara lain.
Fokus perdagangan luar negeri Indonesia saat ini adalah memaksimalkan potensi ekspor di pasar tradisional sekaligus mengembangkan pasar baru. Menurutnya, dalam rangka itu perjanjian perdagangan baik bilateral maupun multilateral sangat penting.
Misalnya saja penyelesaian RCEP yang baru ditandatangani disebut berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia hingga 11 persen. Sementara fasilitas GSP oleh Pemerintah Amerika Serikat selama ini memberikan manfaat perdagangan hingga USD 2,2 Miliar.
"Pasca pandemi kita akan semakin aktif untuk menyelesaikan perundingan perdagangan. Saya melihat potensi besar di Turki, Iran, Tunisia dan negara-negara lain yang menunggu produk Indonesia. Ini yang akan pemerintah maksimalkan. Semua itu tentu harus didukung dan dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha yang kreatif dan efisien," tutupnya.
(mdk/azz)