LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Kekesalan Mendag Gobel sampai sebut Indonesia bangsa bekas

Banyaknya pemakaian barang bekas impor lantaran masyarakat gengsi dengan merek hasil produk dalam negeri.

2015-05-13 07:00:00
ekspor impor
Advertisement

Pemerintah tampak geram dengan praktik perdagangan pakaian bekas impor ilegal. Pasalnya, selain merugikan negara karena tidak membayar bea masuk, pakaian bekas ilegal ini juga mengancam kesehatan masyarakat.

Maka dari itu, Kementerian Perdagangan ngotot ingin pakaian bekas impor hilang dari Tanah Air. Langkah ini mendapat banyak dukungan salah satunya datang dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Mereka sepakat, langkah ini untuk memperbaiki industri garmen dari hulu ke hilir.

Ketua bidang ritel Aprindo Eddy Hartono membeberkan penyebab larisnya pakaian bekas impor di Indonesia. Dia menyebut, banyaknya pemakaian barang bekas impor lantaran masyarakat gengsi dengan merek hasil produk dalam negeri dan memilih menggunakan merek luar negeri. Padahal, kata dia, merek yang terkenal tidak menjamin kualitas bagus.

Dia malah menegaskan bahwa produksi dalam negeri tidak kalah hebat. "Masyarakat ingin brand image, gengsi, karena membeli baru mahal jutaan, mereka beli bekas," jelas Eddy.

Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kemendag Widodo mengingatkan, lebih baik konsumen membeli produk dalam negeri. Produk dalam negeri sendiri diklaim lebih murah dan terjamin kesehatannya.

Meski telah berulang kali diimbau, namun, kenyataannya praktik perdagangan pakaian bekas impor masih berlanjut. Menjamurnya praktik ini sampai membuat Menteri Perdagangan Rachmat Gobel geram. Mengapa? Berikut merdeka.com akan merangkumnya untuk pembaca.

Indonesia disebut bangsa bekas

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menegaskan bahwa jiwa konsumtif masyarakat Tanah Air begitu tinggi, termasuk kepada barang bekas. Atas kondisi itu, dirinya menyindir bahwa Indonesia menjadi bangsa 'bekas'.

"Kalau seperti ini kita jadi bangsa bekas," kata Rachmat di Jakarta, Selasa (12/5).

Rachmat sesumbar bakal mengoptimalkan upaya menahan banjirnya pakaian eks impor ke dalam negeri. Sebab hal ini dianggapnya, juga mencederai kedaulatan bangsa.

"Kita tidak mau bangsa besar ini bangsa bekas, kita punya martabat dan derajat bangsa," ungkapnya.

Advertisement

Moral bangsa mati seiring maraknya pakaian bekas impor di dalam negeri

Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel mengatakan serbuan pakaian bekas impor ini tidak hanya masalah defisit neraca perdagangan tapi membuktikan lemahnya daya saing industri dalam negeri. Salah satu industri yang terpukul karena impor pakaian bekas adalah industri garmen.

"Bagaimana membangun industri kita kalau pakaian bekas didiamkan saja masuk ke Indonesia. Bukan hanya industri yang mati, tapi moral bangsa Indonesia juga akan mati," ucap Rachmat di Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Rachmat menyebut, merajalelanya pakaian bekas disebabkan karena pasar Indonesia yang terlalu terbuka. Kemudian, ditambah lagi penduduk Indonesia yang banyak menjadi daya tarik yang tak bisa dihindari. Menurut Rachmat, pemerintah ke depannya akan memajukan industri dalam negeri dengan memberi insentif agar bisa bersaing dengan pakaian bekas yang sudah menjamur.

Advertisement

Celana bekas wanita banyak mengandung bakteri

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menemukan ratusan ribu koloni mikroba dan puluhan ribu koloni jamur dalam pakaian bekas impor yang diperjualbelikan masyarakat. Sebagai pembuktian, Kemendag telah melakukan uji sampel pada 25 baju dan celana bekas impor.

Sebagai contoh, celana pendek wanita bahkan mengandung angka lempeng total 216.000 koloni per gram. Bahkan, celana pendek tersebut disinyalir bekas menstruasi.

"Ternyata celana itu bekas mens. Paling banyak ditemukan, yang masuk ke Indonesia, sangat mengerikan," jelas dia.

Menimbang hal tersebut pihaknya menegaskan baju bekas impor tak laik dipakai. "Dari sisi pengamatan kasat mata baju tidak layak pakai," ungkapnya.

Pedagang pakaian impor bekas akan dipidana

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengancam akan memberikan sanksi pidana bagi importir nakal yang nekat mendatangkan pakaian bekas. Importasi pakaian bekas sebenarnya tidak mendapat izin dari Kementerian Perdagangan.

Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel mengatakan pakaian bekas yang masuk ke Indonesia adalah ilegal.

"Kalau itu ilegal sanksinya jelas yaitu pidana. Kita sedang coba melawan impor ilegal karena banyak merugikan masyarakat dan negara," tegas Rachmat di kantornya, Jakarta Pusat.

Rachmat mengklaim, langkah tegas perlu diambil untuk melindungi masyarakat dari bahaya barang impor berkualitas rendah.

Pakaian bekas injak-injak harga diri bangsa

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel juga meradang menemukan fakta impor pakaian bekas yang mengandung ribuan bakteri. Menurutnya, ini sebagai pelecehan terhadap martabat bangsa. Rachmat meradang karena dari hasil uji sampe di laboratorium Kementerian Perdagangan, pakaian impor bekas yang masuk Indonesia mengandung ribuan bakteri berbahaya bagi manusia.

"Impor kita itu yang kualitasnya rendah, barang konsumsi itu tinggi sekali. Coba kalau bangsa pasar kita diisi buah-buahan terkontaminasi, pakaian bekas ilegal, barang-barang berkualitas rendah. Yang rugi adalah konsumen. Dampak yang didapat konsumen adalah keselamatan, keamanan, kesehatannya," katanya.

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.