Kebijakan Trump Akhiri Penutupan Pemerintahan Turut Sumbang Penguatan Rupiah
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani mengatakan, kebijakan AS menutup dan membuka kembali pemerintahan turut membuat Rupiah menguat dalam beberapa waktu terakhir. Ini karena pasar melihat ada ketidakpastian kebijakan di negara Paman Sam tersebut.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setuju mengakhiri penutupan sebagian pemerintahan AS atau shutdown AS yang sudah berlangsung selama 35 hari. Dia setuju membuka penutupan pemerintahan AS tanpa mendapatkan dana yang dia minta dari kongres untuk tembok perbatasan.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani mengatakan, kebijakan AS menutup dan membuka kembali pemerintahan turut membuat Rupiah menguat dalam beberapa waktu terakhir. Ini karena pasar melihat ada ketidakpastian kebijakan di negara Paman Sam tersebut.
Pasar juga mulai menimbang-nimbang ketika ingin melakukan investasi di AS. Hal itu terlihat dari tindakan beberapa pengusaha meminta bunga yang lebih tinggi untuk investasi jangka waktu 2 tahun dibandingkan 10 tahun.
"Mungkin Rupiah tidak melemah lagi. Saya lihat orang sekarang di AS sudah minta bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu 2 tahun dibandingkan 10 tahun. Itu ciri-ciri negara bisa jadi krisis atau resesi karena kalau jangka pendek berarti dia melihat ada ketidakpastian di AS," ujarnya di Kantor ISEI, Jakarta, Senin (28/1).
Aviliani melanjutkan, kondisi tersebut membuat aliran modal perlahan kembali masuk ke Indonesia. Ke depan, Rupiah diprediksi masih akan menguat jika pasar menilai kondisi kebijakan di AS belum cukup ramah untuk investor.
Baca juga:
Rupiah Tengah Menguat, Bank Indonesia Sebut 4 Faktor ini Jadi Pendorongnya
Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp 14.202 per USD
Rupiah Jadi Mata Uang Terbaik Kedua di Dunia
Ini Penyebab Rupiah Terkapar ke Level Rp Rp 14.228 per USD
Rupiah Terkapar ke Level Rp 14.228 per USD