Kebijakan subsidi BBM tak cukup ampuh bikin Rupiah bergairah
Pengaruh ekonomi global terhadap Rupiah masih terlalu kuat ketimbang kebijakan dari dalam negeri.
Nilai tukar Rupiah belum menunjukkan tanda-tanda penguatan terhadap Dolar Amerika Serikat. Kondisi perekonomian Eropa disebut-sebut sebagai faktor utama masih kuatnya dolar AS.
Selain itu, penurunan harga minyak dunia yang terlalu tajam juga turut berperan melemahkan nilai tukar Rupiah.
"Menurunnya harga minyak yang tendensinya terlalu tajam itu mungkin yang menciptakan ketidakpastian di ekonomi global," ujar Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro yang ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (7/1).
Kebijakan pemerintah dalam pengelolaan subsidi BBM tidak serta merta menjadi sentimen positif yang berhasil menggairahkan nilai tukar Rupiah. Alasannya, pengaruh ekonomi global terhadap Rupiah masih terlalu kuat ketimbang kebijakan dari dalam negeri.
"Nah kalau ada kondisi yang tidak pasti, sekarang termasuk penurunan harga minyak itu kan harga komoditas turun pasti semua orang akan menganggap Indonesia akan kesulitan karena sebagian besar ekspor tergantung komoditas mentah jadi sentimennya juga negatif meskipun kita sudah buat kebijakan yang lain jadi kita tidak bisa bilang kebijakan itu bisa menyelesaikan semua," kata dia.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah melemah ke level 12.732 per dolar AS. Rupiah terkoreksi cukup parah sebesar 74 poin dari perdagangan sebelumnya di level 12.658 per dolar AS.