Karir anak emas Dahlan pelapor DPR pemalak berakhir di tangan Rini
Ismed dipecat karena berkinerja buruk.
Karir Ismed Hasan Putro sebagai direktur utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) berakhir. Menteri BUMN, Rini Soemarno secara resmi melengserkan Ismed pada Selasa (5/5) lalu dengan alasan kinerja Ismed yang tidak sesuai ekspektasi.
Rini menjelaskan, ada dua alasan kuat yang menjadi dasar pemecatan bos RNI tersebut. Pertama, RNI mengalami kerugian utang valas akibat tidak dikelola dengan baik. "Perusahaan rugi valas karena tidak tercover dengan baik. Itu kami tekankan kesalahan manajemen," ujar dia di Kementerian BUMN, Jakarta, kamis (7/5).
Faktor kedua adalah kinerja RNI yang buruk dalam mengelola pabrik gula. Dari alasan itulah yang jadi pertimbangan Rini memecat Ismed Hasan Putro.
"Kita anggap dia tidak menjalankan manajemen dengan baik. Kita lihat semua demikian. RNI core itu masih jadi sebagai pabrik gula. Ini tidak termanage dengan baik." kata dia.
Kinerja RNI memang menurun tahun lalu dengan mencatat kerugian Rp 200 miliar. Angka itu anjlok jauh dibanding kinerja perusahaan pada 2013 yang mencatat laba komprehensif tahun berjalan sebanyak RP 33,242 miliar. Pada 2012, RNI membukukan laba bersih sebesar Rp 270,32 miliar atau naik signifikan dibanding tahun 2011 di mana RNI mencetak rugi sebesar Rp 68,45 miliar.
Ismed sendiri diangkat Dahlan Iskan yang kala itu menjadi Menteri BUMN pada Maret 2012. Menilik itu, masa jabatan Ismed seharusnya berakhir pada 2017 mendatang. Meski demikian, Rini belum mengungkap siapa pengganti Ismed.
"Sekarang sedang diproses asesmen calon-calonnya. Setelah dua minggu akan diputuskan," kata Rini.
Ismed semasa memimpin salah satu BUMN pernah menjadi sorotan publik karena melakukan hal yang terbilang tidak biasa.
Berikut kisah Ismed memimpin BUMN:
Anak emas Dahlan Iskan
Awal Maret 2012, Menteri BUMN Dahlan Iskan melakukan perombakan habis-habisan pada jajaran direksi BUMN perkebunan, RNI. Seluruh jajaran direksi diganti dan Ismed dipercaya memegang pucuk pimpinan tertinggi RNI.
Sebelum jadi bos RNI, Ismed adalah seorang wartawan di perusahaan media cetak milik Dahlan Iskan, Jawa Pos.
Kepribadian dan gaya Ismed kala itu memang mirip dengan Dahlan Iskan. Saat pelantikan saja, Ismed terlihat santai mengenakan kemeja putih dengan celana bahan hitam dan ditambah sepasang sepatu kets.
Saat pelantikan 2012 silam, Ismed menyebut pengangkatan dirinya telah melalui seleksi ketat. Saat itu juga banyak orang yang menilai Ismed merupakan seorang pekerja keras, banyak orang yang percaya bahwa di tangan Ismed, RNI akan menjadi semakin maju. Seperti yang ia katakan bahwa ia akan melakukan pembersihan "lemak" sesuai keyakinannya bahwa ia bisa menjaga stabilitas, kesehatan, dan memajukan RNI.
Lapor pemalakan BUMN oleh DPR
Ketika memimpin RNI, Ismed pernah tersandung kasus anggota DPR yang memalak perusahaan BUMN. Anggota DPR kala itu dikatakan meminta jatah saat pengesahan dana PMN (Penyertaan Modal Negara).
Buntut masalah ini, salah satu anggota Komisi VI DPR, Abdul Kadir Karding mengusulkan agar Direktur Utama PT RNI, Ismed Hasan Putro diseret ke polisi atas tuduhannya terhadap anggota DPR yang disebut-sebut memalak perusahaan BUMN. Laporan Ismed bersama Dahlan Iskan tersebut dianggap tidak terbukti dan Komisi VI belum mendapat nama anggota DPR yang terbukti memalak perusahaan BUMN.
"Kita laporkan saja ke polisi, kita merasa di fitnah, kita merasa tidak melakukan," jelasnya dalam rapat Komisi VI DPR, di Senayan, Jakarta, beberapa tahun lalu.
Menurutnya, jika Ismed tidak mau membuka mulut mengenai siapa yang melakukan pemalakan maka Komisi VI tidak segan segan melaporkan Ismed karena nama mereka sudah tercemar.
"kalau memang itu tidak ada laporkan saja ke polisi mana yang benar mana yang salah. Saya akan laporkan pencemaran nama baik," jelasnya.
Ternyata kasus laporan DPR pemalak yang pernah dilaporkan Dahlan Iskan dan Ismed Hasan Putro membawa dampak buruk kepada DPR. Salah satu anggota DPR Komisi VI Iskandar Syaichu mengaku anaknya langsung tidak mau sekolah karena mendengar dan membaca berita kalau DPR adalah tukang palak.
"Anak saya menangis. Ketika anda sebut inisial IS anak saya menangis dan minta berhenti sekolah. Gila anda. Anda mau jadi malaikat, saya ditegur sekjen partai," jelasnya.
RNI rugi karena gula rafinasi
Ismed Hasan Putro mengakui kalau RNI mengalami kerugian 2014 silam. Hal ini terjadi karena tidak tegasnya pemerintah dalam membatasi gula rafinasi di pasaran.
Menurut Ismed, perusahaannya yang banyak bergerak dalam penyaluran dan kebun tebu tidak bisa bersaing dengan gula rafinasi yang dijual lebih murah. Bahkan Ismed tahun lalu selalu berteriak agar pemerintah menahan dan menertibkan gula rafinasi yang masuk pasar karena melanggar aturan yang ada.
"Seluruh BUMN tebu juga merugi. Kalaupun tidak merugi karena ada anak perusahaan mereka bekerja di luar wilayah (tebu)," katanya.
Namun demikian, Ismed tidak akan mempermasalahkan keputusan Rini Soemarno yang memberhentikan dia dari bos RNI.
"Saya sudah ngelawan terus 2014, saya sudah bertempur masa lalu tapi engga penting lagi. Kalau ini enggak jadi bagian referensi ya tidak apa apa. Kan ukuran diangka tapi yasudah ini bagian perjuangan saya. Tuhan tahu mana yang lebih baik buat saya," katanya.
Lebih nyaman tak jadi bos BUMN
Ismed Hasan Putro mengaku tidak mempermasalahkan keputusan Rini Soemarno yang memberhentikan dirinya. Bahkan Ismed mengaku lebih nyaman setelah tidak lagi memegang pucuk tertinggi di PT RNI.
"Saya sudah dikasih tahu Selasa kemarin itu. Alasannya kinerja tapi itu enggak masalah buat saya. Sudah selesai buat saya dan saya juga merasa lebih nyaman sekarang," kata Ismed ketika dihubungi merdeka.com di Jakarta, kamis (7/5).
Menurut Ismed, selama di RNI dia telah bekerja keras dan memberikan terbaik menjalankan amanah. Kinerja RNI memang menurun 2014 lalu karena banyaknya gula rafinasi yang merembes ke pasar. Pemerintah tidak menindak gula rafinasi sehingga gula produk RNI susah dijual. Padahal, gula rafinasi seharusnya digunakan pabrik dan tidak boleh dijual di pasar.
"Saya sudah berteriak masalah gula rafinasi dulu, tapi sekarang saya paham dan saya tidak lagi akan membahas masalah ini. Otoritas di Kementerian BUN dan saya sebagai orang yang diberi amanah siap memberikan kembali," katanya.
Ismed bahkan menyebut, semenjak diangkat Dahlan Iskan tahun 2012 silam, dia berencana hanya 4 tahun menjabat di RNI. Namun kenyataannya, baru 3 tahun menjabat Ismed sudah diberhentikan Rini Soemarno.
"Dari awal saya juga hanya ingin 3 atau 4 tahun (pimpin RNI). Saya bukan mau mencari sesuatu saya mewakafkan diri saya. dianggap sudah selesai tidak sesuai ekspektasi sudah selesai," katanya.
Fokus urus kebun pribadi
Ismed Hasan Putro kini tidak lagi berkantor di PT RNI. Saat ini dia menyebut ingin fokus mengurus bisnisnya sendiri.
"Saya urus urusan saya sendiri saja sekarang. Saya urusin bisnis pribadi, benerin kebun saya sendiri, bisnis sendiri yang selama 3 tahun engga keurus. Engga maksimal karena saya menjalankan fungsi di RNI," kata Ismed ketika dihubungi merdeka.com di Jakarta, Kamis (7/5).
Ismed mengaku belum ingin menjadi bos BUMN lagi jika kembali ditawarkan. Ismed saat ini menegaskan hanya ingin fokus pada bisnis pribadi. "Kalau ditawari saya mau lihat-lihat dulu. Tiga hingga enam bulan ini saya mau fokus konsolidasi urusan pribadi," tutupnya.