LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Jokowi tak ingin Rupiah berpatok pada USD, ini kata bos Bappenas

"Sekarang kita banyak perdagangan dengan negara yang artinya tidak bergantung kepada Dolar. Jadi, mungkin sebagian bisa menggunakan (Dolar), tapi sekali lagi itu tergantung apakah transaksinya dimungkinkan atau tidak."

2016-12-07 18:43:18
Rupiah
Advertisement

Presiden Joko Widodo meminta agar Indonesia tidak berpatok pada Amerika Serikat dalam mengukur perekonomian. Salah satunya dengan tidak mengukur perekonomian Indonesia melalui nilai tukar Rupiah terhadap USD, karena ekonomi Amerika sendiri tidak mencerminkan fundamental ekonomi nasional.

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang Brodjonegoro mengatakan, Dolar AS alias USD bukan patokan dari perekonomian Indonesia. Namun, sebagian besar perdagangan Indonesia dengan beberapa negara yang menggunakan USD.

"Sekarang kita banyak perdagangan dengan negara yang artinya tidak bergantung kepada Dolar. Jadi, mungkin sebagian bisa menggunakan (Dolar), tapi sekali lagi itu tergantung apakah transaksinya dimungkinkan atau tidak," kata Bambang di Jakarta, Rabu (7/12).

Advertisement

Dengan demikian, salah satu cara agar Indonesia tidak berpatok kepada Dolar adalah dengan mengurangi impor. Sehingga, para pelaku ekonomi tidak harus khawatir jika nilai tukar Rupiah terhadap dolar melemah, dan akan mengganggu perdagangan mereka.

"Kurangi impor yang paling bisa," imbuhnya.

Sebelumnya, Jokowi menegaskan ekspor Indonesia yang lebih dominan ke negara Asia dan Eropa. Di mana China sebesar 15,5 persen, Eropa 11,4 persen, Jepang 10,7 persen. Untuk itu, Presiden Jokowi mengusulkan agar ukuran perekonomian Indonesia dapat di ukur dari negara-negara yang menjadi sasaran ekspor Indonesia.

Advertisement

Lebih lanjut, Jokowi mengatakan kurs Rupiah dan Dolar bukan lagi tolak ukur yang tepat. Harusnya kurs yang relevan adalah kurs Rupiah melawan mitra dagang terbesar Indonesia.

"Kalau kita masih bawa itu bisa berbahaya. Sementara kalau kita ukur ekonomi kita pakai Euro, Yuan, Renminbi, Korean Won, Poundsterling akan berbeda. Mungkin akan kelihatan jauh lebih bagus, kalau Tiongkok terbesar seharusnya Rupiah Renminbi terbesar. Kalau Jepang, ya kursnya kurs Rupiah Yen. Ini penting untuk edukasi publik, untuk tidak hanya memantau kurs Dolar AS semata. Tapi yang lebih komprehensif," ujar Jokowi di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (6/12).

Baca juga:
Bos Freeport berdoa putusan perpanjangan izin ekspor tak langgar UU
Momen Presiden Jokowi kecewa kecilnya jumlah peserta Tax Amnesty
Petrokimia Gresik reklamasi tanggul untuk lahan smelter Freeport
Hingga hari ini, Dana Alokasi Khusus baru terserap Rp 52 triliun
Kemenkeu: Tahun 2016 jadi sejarah, pertama kali ada penundaan DAU

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.