Jokowi Soal Defisit Sektor Pangan: Hati-Hati, FAO Sudah Ingatkan Potensi Krisis
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta beberapa sektor yang alami penurunan kontribusi terhadap pertumbuhan kuartal I 2020 mulai diperhatikan. Terutama kata Mantan Gubernur DKI Jakarta pada sektor pangan yang berkontribusi negatif yaitu -0,31.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta beberapa sektor yang alami penurunan kontribusi terhadap pertumbuhan kuartal I 2020 mulai diperhatikan. Terutama kata Mantan Gubernur DKI Jakarta pada sektor pangan yang berkontribusi negatif yaitu -0,31.
"Pangan, tanaman pangan -0,31, hati-hati dengan angka ini. Sekali lagi hati-hati dengan angka-angka ini. Pangan -0,31. Apalagi sudah beberapa kali saya sampaikan FAO peringatkan potensi krisis pangan," kata Presiden Jokowi membuka Pagu Indikatif RAPBN Tahun Anggaran 2021 melalui siaran telekonferensi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (6/5).
Sebab itu, Presiden Jokowi meminta pada menteri terkait untuk terus menggenjot sektor pertanian agar tetap berproduksi. Namun, tetap dengan protokol kesehatan. "Sektor pertanian harus digenjot agar berproduksi," jelas Jokowi.
Tidak hanya dari pertanian, menurut Presiden Jokowi, sektor angkutan udara, pertambangan minyak, gas panas bumi serta industri logam juga penyumbang kontribusi negatif. Terlihat pada data angkutan udara -0,08, pertambangan minyak gas panas bumi -0,08, industri barang logam komputer -0,07, penyediaan akomodasi -0,03, industri mesin dan perlengkapan -0,03
"Begitu juga dengan angka dari sisi demand. Sisi permintaan. Angka inflasi pada April 2020 tercatat 0,08 persen. Sangat rendah bila dibandingkan pada periode bulan Ramadhan pada tahun-tahun sebelumnya," ungkap Presiden Jokowi.
Tidak hanya itu, dari sisi pengeluaran juga dia mencatat konsumsi rumah tangga mencapai 2,84 persen dan pengeluaran pemerintah yaitu 3,74 persen jadi lokomotif pertumbuhan. Tetapi dia meminta untuk para menteri melihat lembaga nonprofit yang menangani rumah tangga (LNPRT) yang mengalami kontraksi sampai -4,91 persen.
"Ini betul-betul dilihat secara detail yang konsumsi lembaga non profit yang menangani rumah tangga ini. Dilihat, karena itu, penyaluran bansos dari pemerintah pusat, bansos dari pemda, maupun dari dana desa, dan program padat karya tunai dalam minggu-minggu ini harus dipastikan sudah jalan di lapangan. Bansosnya sudah diterima masyarakat, program padat karya juga sudah jalan di lapangan," tegas Presiden Jokowi.
Jokowi Sebut Defisit Pangan Bukan Potret Nasional
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyayangkan adanya pemberitaan yang menyebutkan terjadi defisit pangan nasional di tengah wabah virus corona atau covid-19. Faktanya, kata Jokowi, secara nasional produksi pangan surplus, hanya saja yang terjadi adalah defisit pangan di provinsi atau wilayah tertentu.
"Ramainya di media mengenai defisit pangan kita, bahwa yang dibicarakan itu adalah defisit pangan di provinsi, defisit di wilayah. Itu bisa ditutup dari surplus di provinsi lain," kata Jokowi melalui siaran pers, Selasa (5/5).
Tentang hal ini, pria yang pernah menjabat walikota Solo pun mengapresiasi kerja keras Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang terus meningkatkan produksi pangan di tengah meluasnya wabah corona di Indonesia.
"Jadi jangan ditulis-tulis Menteri Pertanian bohong. Nanti repot Pak Menteri Pertanian. Lha kita bicara bukan defisit pangan nasional kok, tapi provinsi," sambung Jokowi.
Senada dengan hal ini, Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB, Prof Muhammad Firdaus menegaskan bahwa kondisi ketersediaan pangan pokok nasional secara kumulatif mencukupi, meskipun belum merata sebarannya. Sebab urusan surplus atau defisit dalam sistem penyediaan pangan antar-wilayah itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi.
"Di negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun distribusi pangannya belum merata. Apalagi kita negara kepulauan terbesar di dunia, tidak mungkin produksi merata sama di seluruh wilayah. Sistem distribusinya yang perlu ditata lebih baik," jelasnya.
(mdk/bim)