JK beri sinyal realisasi proyek 35.000 MW tidak maksimal
Wakil Presiden Jusuf Kalla, memastikan bahwa pembangunan proyek kelistrikan 35.000 MW mengalami kemunduran waktu. Awalnya, proyek prestisius itu ditargetkan akan rampung pada 2019 mendatang. Menurutnya, yang terpenting pasokan listrik dalam negeri terpenuhi sehingga tidak ada lagi daerah yang tak teraliri listrik.
Wakil Presiden Jusuf Kalla, memastikan bahwa pembangunan proyek kelistrikan 35.000 megawatt (MW) mengalami kemunduran waktu. Awalnya, proyek prestisius itu ditargetkan akan rampung pada 2019 mendatang.
"Ya kita lihat nanti perkembangannya dari pameran ini (proyek 35.000 MW). Kita harap 2019 ada capaian, mungkin tidak maksimum tidak sampai 35.000 MW," ujar JK di JCC, Jakarta, Rabu (28/9).
Menurutnya, yang terpenting pasokan listrik dalam negeri terpenuhi sehingga tidak ada lagi daerah yang tak teraliri listrik.
"Targetnya (proyek 35.000 MW) mungkin molor sedikit). Yang penting tahun-tahun yang akan datang tidak ada lagi daerah-daerah yang tidak terlistriki," tandasnya.
JK mengatakan penggunaan listrik telah menjadi kebutuhan mendasar. Apalagi dalam era kompetisi sekarang ini maka harga listrik yang murah juga menjadi sebuah kewajiban.
Jika tidak, maka industri dalam negeri tidak akan mampu bersaing dengan industri lainnya di luar negeri.
"Kalau harga listrik tinggi, tentu tidak bisa bersaing dgn negara seperti Vietnam dan Thailand. Karena itu lengkap upaya kita, membangun listrik bukan hanya soal persentase elektrifikasi, tapi juga tentang kualitas keberlanjutan dan sumber energi," pungkasnya.
Baca juga:
Lahan reklamasi bisa jadi kendala penuntasan proyek PLTGU Jawa 1
Wapres JK: Proyek 35.000 MW itu angka keramat
Kejar 35.000 MW, PLN tak konsisten soal pasokan gas ke PLTGU
Pilih lahan reklamasi, proyek PLTGU Jawa 1 bakal tuai gugatan
Kejar target 2019, lokasi PLTGU Jawa 1 diminta di luar reklamasi
2.838 Keluarga di Waykanan Lampung belum menikmati listrik
KPPU pelototi PLN dalam tender proyek 35.000 MW