LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

INKA akui sulit saingan harga lawan kereta China

Seringkali INKA kalah bersaing, termasuk dalam tender di negeri sendiri.

2013-03-23 10:57:00
Kereta
Advertisement

Bisnis PT Industri Kereta Api (INKA) di Madiun relatif berkembang dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Pada 2003, terjadi masa-masa suram, sama sekali tidak ada pesanan masuk ke BUMN ini. Untungnya, ratusan karyawan selamat dari PHK, tidak seperti yang dialami beberapa perusahaan pelat merah yang masuk kategori industri strategis lainnya.

Direktur Utama INKA Agus Purnomo menuturkan, INKA masih bisa bertahan lantaran sarana transportasi kereta masih disukai masyarakat. Tak peduli bisnis pesawat sedang ramai karena popularitas maskapai murah.

Advertisement

"Kereta ini kan meskipun pesawat ada banyak, nyatanya di hampir semua weekend full. Tarifnya peak season bisa mendekati pesawat tapi ya tetep penuh semua. Ternyata kereta itu nyaman, punya segmen tersendiri," ujar Agus di Kantor Pusat INKA, Madiun, Sabtu (23/3).

Untuk mempertahankan bisnis, INKA melirik semua peluang bidang manufaktur kereta. Agus mengatakan orientasi bisnis perusahaan yang berdiri 1981 ini untuk sementara bukan membuat kereta penumpang.

"Fokus INKA malah di kereta barang, duit banyak diperoleh dari kereta barang," akunya.

Advertisement

Namun, semua itu masih menyisakan masalah. Bisnis kereta barang cuma memberi pendapatan kotor besar, dengan profit rendah. Tak dipungkiri bahwa 70 persen keuntungan tahun lalu berasal dari pembuatan kereta penumpang.

Selain itu, jiwa INKA ketika didirikan oleh BJ Habibie dulu tetaplah produsen kereta penumpang, baik itu kereta-kereta ekonomi sampai argo pesanan PT KAI, ataupun KRL. Padahal di segmen itu, lawan berat mereka adalah China.

Produsen Negeri Tiongkok itu kerap menjadi lawan INKA saat tender proyek, baik di dalam maupun luar negeri. Terlebih, harga kereta yang ditawarkan pabrikan China jauh lebih murah.

Seringkali INKA kalah bersaing, termasuk dalam tender di negeri sendiri. Sebaliknya, di Bangladesh, Malaysia, dan terakhir beauty contest pengadaan KRL eksekutif Bandara Soekarno-Hatta, BUMN ini sukses menyingkirkan pesaing China.

Karena INKA dan pabrikan China bersaing di segmen yang sama yakni kereta barang dan kereta penumpang medium, Agus masih percaya pihaknya bisa terus bertahan di bisnis kereta.

Satu-satunya hambatan hanya harga jual. Sebab, produsen di Negeri Panda itu kapasitas produksinya jauh melebihi INKA yang setahun baru bisa memproduksi 120 gerbong dan 100-an lokomotif.

"Jadi kita bersaing dengan negeri China, sebenarnya kalau secara fair kualitasnya sama, INKA rasanya bisa menang, harus fight karena enggak ada cara lain, masalahnya adalah harga," ungkapnya

Kini, selain bersaing harga, INKA sedang mengupayakan cara lain. Yaitu masuk ke pasar kereta yang belum dimasuki China. Salah satu yang sudah dicoba adalah tender kereta di Iran. Masih ada masalah soal harga beli dari pemerintah Iran, tapi cara itu akan terus diupayakan oleh Agus. Selain itu, pasar Afrika juga sudah masuk dalam radar bidikan INKA.

"Kita ikut tender di Kenya, di Iran masih ada masalah karena harganya enggak mau disesuaikan, jadi kalau China enggak masuk, kita masuk, kita masih bisa menang," tegasnya.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.