Ini penjelasan lengkap Mendag Enggar soal tambahan impor beras 500.000 ton
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, impor beras jilid II sebesar 500.000 ton sebenarnya bukan penambahan. Impor ini sebenarnya sudah disetujui dalam rapat koordinasi terbatas antara Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian BUMN.
Impor beras jilid II sebesar 500.000 ton nampaknya masih menuai sejumlah pro dan kontra. Pemerintah sendiri sepertinya tidak kompak mendukung pengadaan impor beras ini. Adapun dua kementerian yang secara terang-terangan memperdebatkan impor ini adalah Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.
Tidak hanya kedua kementerian tersebut, Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) yang dipimpin oleh Budi Waseso juga seakan menolak untuk melakukan impor beras jilid II. Budi menilai, stok beras masih sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga beberapa bulan ke depan.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, impor beras jilid II sebesar 500.000 ton sebenarnya bukan penambahan. Impor ini sebenarnya sudah disetujui dalam rapat koordinasi terbatas antara Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian BUMN pada Februari lalu.
"Itu bukan penambahan kok. Itu ada, itu sudah diputuskan dalam rakortas. Keputusan dipimpin oleh Pak Menko (Darmin Nasution), dihadiri oleh Kementan, dihadiri Dirut Bulog dan juga Kementerian BUMN dan saya. Disepakati diputuskan untuk menugaskan kepada Bulog untuk impor," ujarnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (24/5).
Menteri Enggar menampik, impor ini dilakukan tanpa pertimbangan. Menurutnya, impor jilid II sudah berjalan bersama masuknya seluruh impor jilid I sebanyak 500.000 ton pada April. Oleh karena itu, total seluruh impor yang masuk telah mencapai sekitar 680.000 ton.
"Rakortas itu sudah lama. Sesudah itu ada lagi. Kalau cuma 500.000 ton, stok Bulog impor ada 680.000 ton, coba selisihnya dari mana? Kalau misalnya 680.000 ton, yang izin hanya 500.000, sisanya izinnya dari mana? Itu pakai izin impor kan. Artinya yang impor pertama itu izinnya lebih dari 500.000 ton. Buktinya ada 680.000 ton. Belajarlah berhitung," jelasnya.
Lebih lanjut, Menteri Enggar menjelaskan, tender impor jilid II dilakukan bersamaan dengan tender impor beras jilid I. "Tendernya, sudah lama sama Bulog. Dan itu tender terbuka. Kalau dibuka diurut websitenya Bulog, pada waktu dia tender, itu sudah lama dan itu tender Bulog terbuka. Pemerintah hanya memberikan tugas pada Bulog, lakukan ini," jelasnya.
Adapun alasan pemerintah melakukan impor ini dengan melihat semakin menipisnya stok cadangan beras Bulog di gudang. Sementara, permintaan dan kebutuhan masyarakat atas beras terus meningkat dan harus dipenuhi.
"Cerminannya bahwa suplainya memang kurang. Kalau seandainya tidak ada impor waktu itu (jilid I) kan ada kekurangan. Tetapi sekarang jumlah stok bulog ada 1,2 juta ton, 600.000 ton lebih itu adalah impor. Jadi sebenarnya kalau tanpa impor, maka jumlah cadangan beras di Bulog jadi dibawah 1 juta ton. Itulah dasar kenapa kita harus impor," tandasnya.
Baca juga:
Kementan-Kemendag beda pendapat soal impor beras jilid II, ini respons Menko Darmin
Ditanya soal impor, Menteri Amran justru banggakan pertumbuhan ekspor pertanian
Ketua DPR sebut impor pangan tak haram
Menko Darmin sebut tambahan beras impor 500.000 ton telah masuk Indonesia
Serapan Bulog kecil jadi alasan pemerintah tambah impor beras 500.000 ton