Ini faktor buat Rupiah perkasa terhadap USD
Rupiah menguat dibanding ekspektasi pemerintah karena awalnya ada kekhawatiran ekonomi Amerika Serikat tumbuh lebih cepat dari perkiraan.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara angkat bicara terkait menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) hingga menyentuh level Rp 13.300 per USD dari awal tahun. Rupiah lebih kuat dibanding ekspektasi pemerintah karena awalnya ada kekhawatiran ekonomi Amerika Serikat tumbuh lebih cepat dari perkiraan.
"Waktu itu dikira masih bisa jaga ekonomi AS. Lalu karena diperkirakan lebih cepat dari perkiraan maka suku bunga AS naik lebih cepat dari perkiraan," ujar Mirza di kompleks BI, Jakarta, Jumat (8/9).
Tapi ternyata, kata dia, ekonomi AS memang tumbuh bagus namun tidak secepat perkiraan. "Agak melandai. Inflasi di AS melandai di bawah 2 persen," ucapnya.
Lanjut dia, mulanya suku bunga di awal tahun diperkirakan bisa naik 4-5 kali. Saat ini sudah 3 kali kenaikan suku bunga. "Ehh sudah naik berapa kali tahun ini? 2 kali. Mau naik sekali lagi belum tentu. September ini rasanya nggak. Desember nanti change untuk naik sudah 25 bps," kata Mirza.
Menurutnya, hal itu yang membuat USD kurang menarik karena suku bunganya tidak jadi naik serta ekonomi AS tidak tumbuh lebih tinggi dari perkiraan. "Itu semua membuat tren pembalikan, ekspektasi orang terhadap USD, USD terhadap mata uang global menurun," jelasnya.
Tambahnya, USD yang awal tahun bisa mencapai 2,5 persen tenor 10 tahun sekarang trennya turun. "Terus kemarin terakhir 2,0 sekian ini membuat USD melemah. Yaa ini yang mata uang Indonesia dan negara-negara emerging market menguat," tandasnya.
Baca juga:
Naik USD 1 M, cadangan devisa Agustus 2017 kembali cetak sejarah
Per hari ini, Menteri Jonan catat porsi bauran EBT capai 12 persen
Bos Bekraf: Industri bioskop Indonesia tertinggal dibanding India dan China
Asosiasi minta pengusaha waralaba RI tak jadi raja di rumah sendiri
Tiga tahun berdiri, Dusdusan.com sudah punya 30.000 reseller