Ini alasan pengusaha lebih pilih impor kapal
Ini membuat industri galangan kapal nasional sulit berkembang.
Pengusaha pelayaran mengaku lebih memilih membeli kapal impor ketimbang produk dalam negeri. Ini membuat industri galangan kapal Tanah Air sulit berkembang.
Direktur Utama PT Dharma Lautan Utama (DLU), Bambang Harjo, menjelaskan bahwa membeli kapal produksi dalam negeri lebih mahal. Ini lantaran komponen kapal yang masih harus diimpor, terkena bea masuk dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen.
"Saya juga bisa membuat galangan yang bisa bangun di dalam negeri. Tapi, karena ketidaktersediaan komponen, membuat kita memilih untuk impor kapal," kata Bambang di Pelabuhan Merak, Banten, Jumat (18/10).
Bambang baru saja membeli kapal bekas dari Jepang senilai Rp 150 miliar. Kapal itu akan digunakan untuk melayani rute Merak-Bakauheni.
Menurut Bambang, jika pemerintah ingin melihat industri galangan kapal nasional maju. Maka, segala pajak yang membebani komponen kapal yang masih harus diimpor itu harus dikurangi.
"Impor kapal ini juga masih ada, karena masih belum adanya perhatian bahwa bea masuk dan PPN untuk komponen impor harusnya 0 persen," katanya.
Menurutnya, impor kapal juga dilakukan untuk mengimbangi permintaan masyarakat akan transportasi laut yang memadai. Hal mana sulit dipenuhi jika hanya mengandalkan kapal produksi dalam negeri yang proses pembuatannya memakan waktu lama.
"Tetapi untuk proyek pemerintah itu diharapkan wajib untuk dibangun di dalam negeri."
(mdk/yud)