Ini alasan pemerintah Jokowi selalu tambah utang setiap tahun
Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2017 tercatat USD 333,6 miliar atau setara Rp 4.430 triliun. Angka ini tumbuh 5,5 persen jika dibanding periode sama tahun lalu (yoy). Pemerintah membutuhkan pembiayaan yang berasal dari utang untuk menutupi keperluan negara yang produktif.
Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2017 tercatat USD 333,6 miliar atau setara Rp 4.430 triliun. Angka ini tumbuh 5,5 persen jika dibanding periode sama tahun lalu (yoy).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenkeu Hadiyanto mengatakan, pemerintah membutuhkan pembiayaan yang berasal dari utang untuk menutupi keperluan negara yang produktif. Beberapa diantaranya adalah pembangunan infrastruktur, investasi di bidang pendidikan dan kesehatan.
"Kalau utang itu untuk keperluan yang produktif. Produkif itu memiliki value tangible seperti infrastruktur, peningkatan pendidikan, kesehatan dan sebagainya," ujar Hadiyanto saat ditemui di Gedung DPR MPR, Jakarta, Jumat (21/7).
Hadiyanto mengatakan penambahan utang telah dilakukan karena ada rencana belanja yang besar, sedangkan penerimaan tidak menutup kebutuhan belanja. Namun demikian, kata Hadiyanto, rencana penambahan utang dilakukan dengan pertimbangan yang matang.
"Perencanaan untuk meminjam utang itu jelas basisnya ada belanja yang besar, dengan penerimaan yang tidak memenuhi belanja sehingga memerlukan pembiayaan. Tentu berdasarkan perencanaan yang sudah sangat matang," pungkasnya.
Baca juga:
Sudah tutup, 7-Eleven nunggak utang Rp 240 miliar ke Bank Mandiri
Menkeu: Selain KPK, kondisi utang RI jadi trending topic di medsos
Malam ini, surat utang global 1 miliar Euro dan USD 2 M diterbitkan
Cara pemerintah kendalikan defisit anggaran dan tambahan utang
5 Fakta jumlah orang miskin sulit turun di era Presiden Jokowi
Utang RI Mei Rp 4.430 T, total pemerintah dan BI lewati milik swasta
Sejak 2013, laju pertumbuhan utang lebih tinggi dari ekonomi RI