Industri tekstil Vietnam kalahkan RI karena upah lebih murah
Pengusaha menyebut tekstil Vietnam kini nomor tiga dunia, karena upah buruhnya cuma Rp 842 ribu per bulan.
Pengusaha menyebut tingginya upah buruh di Indonesia sangat berpengaruh pada daya saing industri padat karya, tak terkecuali industri tekstil.
Ekspor garmen, benang, maupun pakaian jadi dari Indonesia terus merosot. Bahkan sekarang kuantitas pasar tekstil Tanah Air telah disalip Vietnam yang terus meningkatkan ekspornya ke Amerika.
Ketua Asosiasi Pengusaha Tekstil Indonesia Ade Sudrajat mengakui perkembangan industri tekstil Vietnam sangat pesat. Padahal Vietnam baru memulai usaha ini 10 tahun yang lalu, sedangkan Indonesia sudah mulai ekspor 40 tahun yang lalu.
"Kita dikalahkan Vietnam. Sekarang mereka nomor 3 dan kita nomor 6 aja dari dulu," kata Ade selepas diskusi di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (6/9).
Saat mulai melakukan usahanya, Vietnam padahal berada pada posisi 22. Melejitnya usaha tekstil Vietnam karena pemerintah dan stakeholder satu suara untuk memajukan usahanya. Dan juga upah buruh di Vietnam juga masih jauh lebih murah dibandingkan Indonesia.
"Vietnam satu visi pemerintah dan pengusaha. Kita harapkan stakeholder dan pemerintah manapun visinya harus sama memperbaiki iklim usaha dan investasi bisa masuk dan memperbaiki infrastruktur lebih baik lagi. Di Vietnam upah Rp 842.000 per bulan, sedangkan di sini Rp 2 jutaan," katanya.
Berbanding terbalik dengan Vietnam, pemerintah Indonesia justru mempersulit ekspor tekstil. Salah satunya adalah adanya aturan Kementerian Keuangan yang diskriminatif yaitu mencabut fasilitas kemudahan impor ke negara ekspor.
"Kalau mau dapat kemudahan harus masuk kawasan berikat tekstil. Tapi ini kan harus ada syaratnya lagi," tegasnya.
Hingga satu tahun ini, industri tekstil nasional menargetkan ekspor sebesar USD 13,3 miliar. Angka ini masih naik dari tahun sebelumnya yang hanya USD 12,5 miliar. Sebagai perbandingan, pada 2012 ekspor Vietnam sudah mencapai USD 18 miliar.
"Kita cuma menang dengan Pakistan karena banyak bom di sana. Ada yang salah manajemen disini," kata Ade.
(mdk/ard)