Industri Film Terdampak Pandemi, Dian Sastrowardojo Tulis Surat Terbuka ke Jokowi
Artis Dian Sastrowardojo menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo melalui Instagram pribadinya @therealdisastr, mengenai industri film yang terdampak pandemi covid-19. Menurutnya, industri film merupakan bagian penting dari Indonesia, bagi pekerjanya, bagi penontonnya, bagi keseluruhan industri kreatif.
Artis Dian Sastrowardojo menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo melalui Instagram pribadinya @therealdisastr, mengenai industri film yang terdampak pandemi covid-19. Menurutnya, industri film merupakan bagian penting dari Indonesia, bagi pekerjanya, bagi penontonnya, bagi keseluruhan industri kreatif.
"Industri film kini mengalami pukulan keras di tengah pandemi Covid-19. Puluhan ribu pekerjanya kesulitan bertahan hidup akibat proses pra hingga pasca produksi film yang terhambat. Industri film juga sudah kehilangan potensi pemasukan terbesarnya, karena bioskop sedang kesulitan bertahan," tulis Dian Sastro, dikutip liputan6.com, Senin (8/3).
Menurut aktris kelahiran Jakarta ini, walaupun bioskop telah dibuka dengan kapasitas hanya 50 persen, ternyata masih ditakuti masyarakat untuk dikunjungi. Akibatnya karyawan bioskop yang besar jumlahnya dan tersebar di seluruh Indonesia makin terancam kehilangan pekerjaan.
Sementara pembajakan film yang di masa pandemi ini kian merajalela, terus mengancam masa depan industri film Indonesia. "Bapak Presiden yang tercinta, seperti yang Bapak ketahui, masih banyak yang tidak memahami pentingnya eksistensi film Indonesia untuk bangsa ini. Keberhasilan industri film di sebuah negara adalah investasi besar," katanya.
Dia menjelaskan, film tidak hanya menyumbangkan kontribusi pada perekonomian, tapi juga memberikan kekuatan nilai terhadap identitas dan strategi budaya. Film adalah media yang populer.
Film bisa efektif membangun ke-Indonesia-an kita di dalam negeri dan memperkenalkan nama Indonesia ke panggung dunia. Semakin Indonesia dikenal di dunia, maka akan semakin memperlancar jalan berbagai sektor industri untuk ikut melaju.
"Sejak Bapak membuka Daftar Negatif Investasi di bidang perfilman di tahun 2016, perfilman Indonesia memasuki era baru dengan jumlah penonton yang terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan pertumbuhan sebesar 20 persen per tahun selama 4 tahun terakhir sebelum pandemi," jelasnya.
Pertumbuhan ini kemudian menjadikan Indonesia sebagai pasar film nomor sepuluh terbesar di dunia dengan nilai pasar sebesar USD500 juta di akhir tahun 2019. "Bapak Jokowi yang kami hormati, Kami semua siap untuk mempertahankan apa yang telah kami capai, tetapi kami tidak bisa melakukannya sendiri. Kami butuh bantuan dan dukungan negara agar apa yang sudah terbangun tidak nah sia-sia," pintanya.
Di akhir isi surat terbukanya, Dian menegaskan walaupun di masa pandemi covid-19 para pembuat film harus terus berkarya dan membuat film-film yang dicintai penontonnya sendiri dan dihargai di mata dunia.
"Bioskop harus bisa bertahan karena di sanalah film-film kami dipertemukan dengan penontonnya. Pembajakan film harus segera diberantas tuntas karena itu adalah potensi ekonomi digital untuk dieksplorasi pelaku industrinya dan ada hak pemasukan negara di dalamnya untuk membangun Indonesia," pungkasnya.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6.com
(mdk/azz)