LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Industri dalam negeri khawatir adanya serbuan produk kaca asal Malaysia

Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengamanan, Yustinus Gunawan mengatakan, selama ini impor produk kaca lembaran asal China ke Indonesia terus meningkat. Hal ini akan diperparah dengan masuknya produk serupa asal Malaysia, yang investasinya juga dikuasai oleh China.

2018-05-30 14:24:00
Pertumbuhan Industri
Advertisement

Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengamanan, Yustinus Gunawan mengatakan, selama ini impor produk kaca lembaran asal China ke Indonesia terus meningkat. Hal ini akan diperparah dengan masuknya produk serupa asal Malaysia, yang investasinya juga dikuasai oleh China.

"Impor meningkat dari China, tapi kecenderungan akan tinggi dari Malaysia. Di Malaysia itu sebenarnya pabrik dari China juga. China sudah membangun dua tungku di Malaysia dan hampir dipastikan untuk pasar Indonesia. Kapasitas (produksi) dia sudah hampir mendekati 1 juta ton per tahun. Jadi hampir mendekati kita. Kalau kita 1,2 juta ton per tahun," ujar dia di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (30/5).

Menurutnya, tujuan China membangun pabrik kaca di Malaysia karena memang ingin mengincar pasar Indonesia. Sebab, kebutuhan kaca lembaran di dalam negeri diperkirakan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor properti dan otomotif.
‎
"Indonesia paling besar pertumbuhan properti dan otomotif. Produk turunannya juga ada seperti kaca cermin," imbuhnya.

Advertisement

Sedangkan saat ini produsen kaca lembaran di Tanah Air masih dihadapkan pada tingginya ‎harga gas. Hal ini yang membuat produsen lokal khawatir kalah bersaing dengan produk-produk asal Malaysia tersebut.

‎"Karena Malaysia harga gasnya murah, sementara kita daya saingnya rendah. Selain impornya naik, ekspor kita juga terhambat. Kita kalah terutama di gas," ungkap dia.

Tercatat, harga gas di Malaysia saat ini sekitar USD 5-USD 6 per MMBTU. Sedangkan di Indonesia masih berada di kisaran USD 8-USD 9 per MMBTU. Harga gas ini juga yang membuat China lebih memilih membangun pabriknya di Negeri Jiran ketimbang di Indonesia.

Advertisement

"Dia bikin (pabrik) di Malaysia karena harga gas. Karena biaya energi dari biaya produksinya sekitar 25 persen-28 persen. Di sana (harga gas) USD 5-USD 6, di sini USD 8-USD 9. Bedanya banyak," jelas dia.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono berharap harga gas di Indonesia bisa segera turun menjadi USD 6 per MMBTU. Sehingga, industri pengguna gas di dalam negeri seperti industri kaca bisa bersaing dengan produk impor.

Reporter: Septian Deny

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Investasi industri manufaktur capai Rp 62,7 triliun di kuartal I 2018
Kemendag sita 2 juta batang besi tak ber-SNI Rp 70 miliar di Tangerang
Pengusaha beberkan tantangan bagi pemerintah kembangkan mobil listrik
Pemerintah diminta tak batasi produksi mobil berbahan bakar minyak di 2040
Ini pesan pengusaha agar 20 persen mobil gunakan listrik di 2025

(mdk/azz)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.