Industri Baterai Kendaraan Listrik Nasional akan Bentuk 6 Perusahaan Patungan
Agus menjelaskan, produksi baterai kendaraan listrik harus melalui sejumlah tahap produksi yang hanya bisa dilakukan di satu pabrik. Sehingga IBC yang beranggotakan empat BUMN yaitu MIND ID, Antam, Pertamina dan PLN wajib membentuk perusahaan patungan dengan konsorsium partner.
Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik (EV Battery), Agus Tjahajana mengatakan, holding BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC) akan membentuk 6 perusahaan patungan (joint venture) dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik nasional.
Agus menjelaskan, produksi baterai kendaraan listrik harus melalui sejumlah tahap produksi yang hanya bisa dilakukan di satu pabrik. Sehingga IBC yang beranggotakan empat BUMN yaitu MIND ID, Antam, Pertamina dan PLN wajib membentuk perusahaan patungan dengan konsorsium partner.
"Jadi bayangkan nikel ore ke sulfat itu satu pabrik, satu joint venture. Nanti masuk ke baterai precursor satu joint venture, ke katoda satu joint venture, ke cell satu joint venture, ke pack satu joint venture," paparnya dalam sesi webinar, Kamis (20/5).
"Sehingga IBC nanti akan membuat banyak joint venture, paling tidak 5 tau 6 joint venture. Kalau bisa bikin sampai dengan dari hulu ke hilir," dia menambahkan.
Diungkapkan Agus, Menteri BUMN Erick Thohir sejak Februari 2020 lalu telah menugaskan IBC untuk menggaet mitra dari 11 perusahaan baterai listrik besar dunia. Dia menceritakan, IBC mulanya harus menerima penolakan dari korporasi-korporasi besar tersebut.
Adapun kesebelas korporasi yang dihubungi berasal dari China, Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, hingga Swedia. Termasuk pemain besar seperti Tesla, CATL, LG Chem, sampai Panasonic.
"Kita japri lah satu-satu, mau sama kami enggak. Apaan sih lo, pasar aja enggak ada, enggak mau," ungkap Agus sembari menirukan bentuk penolakan yang diterima IBC.
Namun setelah terus berusaha keras, IBC pada akhirnya bisa menjalin komunikasi intens dengan beberapa perusahaan baterai listrik tersebut.
"Tapi Alhamdulillah ada yang mau. Yang mau itulah yang sekarang kita sedang berbicara intens untuk menentukan bagaimana strateginya, bagaimana share daripada masing-masing," tuturnya.
"Ini merupakan strategi yang amat berat yang harus kita lalui. Tapi ini adalah tugas dan tanggung jawab bagi kita semua," ujar Agus.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Termurah Rp600 Juta, Harga Mobil Listrik Masih Kemahalan Bagi Masyarakat Indonesia
Dorong Kendaraan Listrik, Pemerintah Perbanyak Pembangunan SPKLU
Indonesia Target 15 Juta Motor dan Mobil Listrik Mengaspal di 2030
Menhub Susun Peta Jalan Dukung Percepatan Implementasi Kendaraan Listrik di Indonesia
Menperin: Grup GoTo Sudah Lirik Motor Listrik Gesits
Pertama di Bogor, BTS Bakal Gunakan Bus Listrik?