Indonesia kalah jauh dari India & China soal pengembangan Energi Baru dan Terbarukan
"India misalnya, saat ini tengah membangun proyek Nehru National Solar Mission, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 200 GW," kata Montty.
Deputi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Montty Girianna menilai, pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) menjadi salah satu kunci mengantarkan Indonesia menuju ekonomi berkelanjutan. Artinya, ekonomi Indonesia tidak hanya kuat, namun dapat bertahan hingga berabad-abad ke depan.
Menurutnya jika dibandingkan negara lain, pemanfaatan EBT di Indonesia masih tertinggal.
"India misalnya, saat ini tengah membangun proyek Nehru National Solar Mission, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 200 GW," kata Montty di Hotel Raffles, Jakarta, Selasa (12/12).
Selanjutnya, China yang kini menjadi pemain EBT yang cukup diperhitungkan karena memiliki PLTS sebesar 78,1 GW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu sebesar 149 GW.
"Di Indonesia sendiri, pemanfaatan EBT masih sangat rendah dibandingkan potensi yang ada. Saat ini kita baru memanfaatkan 8,216 GW dari potensi EBT sebesar 443.208 MW," jelas Montty.
Dia menilai bahwa sudah saatnya Indonesia lebih serius dalam menggarap sektor EBT.
Sementara itu, Direktur Gas Pertamina, Yenni Andayani mengatakan bahwa pihaknya tengah fokus meningkatkan porsi EBT dalam bisnisnya. Pertamina katanya juga melakukan beberapa transformasi bisnis yang berfokus kepada pengembangan EBT.
"Ini adalah komitmen kuat dari Pertamina untuk kita mengembangkan potensi bisnis energi baru dan terbarukan di Indonesia," ujar Yenni.
Pertamina melihat dua parameter dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan, yakni seberapa menarik sebuah proyek dari sisi ekonomi serta ketersediaan teknologi yang mendukung. "Kedua paramater tersebut adalah pertimbangan kita dalam mengeksekusi kesempatan bisnis," ujarnya.
Energi Baru Terbarukan masuk ke dalam prioritas utama dan telah dieksekusi Pertamina, yaitu geothermal, biodiesel, biomass, mini hydro, dan solar PV. Di samping itu, ada juga beberapa EBT yang masih harus dilakukan evaluasi dan pengembangan komersil, seperti wind power, hydro large, bioavture dan bioethanol.
"Salah satu yang kita kembangkan saat ini adalah solar PV. Saat ini sudah terinstal sebesar 1 Mega Watt dari instalasi PV di kantor pusat Pertamina dan area perumahaan kilang Cilacap. Hal ini akan terus berkembang ke area, unit dan anak perusahaan Pertamina yang lain di seluruh Indonesia," terang Yenni.
Baca juga:
Bos Pertamina prediksi PLTS dan PLTB makin dilirik investor di masa depan
Bos Pertamina ungkap pencapaian dan tantangan pengembangan energi terbarukan di RI
Sudirman Said: Pembangunan energi baru terbarukan butuh negarawan bukan politisi
Indonesia-Denmark kerja sama kembangkan PLTB
Menteri Jonan beberkan proyek EBT tengah dikembangkan