LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Impor BBM jadi penyebab defisit transaksi berjalan dan Rupiah melemah

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan impor bahan bakar merupakan penyebab dominan dari defisit current account dan depresiasi nilai tukar rupiah.

2018-10-30 13:26:29
Bappenas
Advertisement

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan impor bahan bakar merupakan penyebab dominan dari defisit current account dan depresiasi nilai tukar rupiah.

"Jadi impor bahan bakar adalah alasan kenapa kita mengalami masalah defisit transaksi berjalan dan masalah kenapa kita alami rupiah selalu di bawah tekanan," kata dia, dalam sambutan, di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta, Selasa (30/10).

"Malaysia atau Thailand juga mengalaminya tapi mereka lebih baik di neraca perdagangan mereka," lanjut dia.

Advertisement

Mantan Menteri Keuangan ini menjelaskan, jika menilik komposisi impor, maka sebagian besar merupakan impor migas atau bahan bakar. "Jika kita lihat struktur impor didominasi oleh impor migas," jelasnya.

Dia mengatakan, berbagai kebijakan untuk meningkatkan ekspor perlu dilakukan sebagai upaya mengatasi defisit neraca perdagangan. Namun, rencana jangka pendek yang dapat dilakukan adalah dengan berupaya menekan impor.

"Meningkatkan ekspor tidak mudah. Apa yang harus kita lakukan adalah mengurangi impor," ujarnya.

Advertisement

Salah satu upaya menekan impor bahan bakar menurut Bambang dapat dilakukan dengan membangun fasilitas refinery. "Untuk jangka pendek pertanyaannya kenapa impor bahan bakar banyak, karena kita tidak punya cukup refinery. Butuh kesediaan politik dan juga kesediaan bisnis," kata dia.

Fasilitas refinery kata dia juga akan membantu Indonesia untuk mengembangkan BBM berstandar Euro 4 yang lebih ramah lingkungan. "Indonesia belum membangun kilang minyak baru selama 10 tahun terakhir. Kemampuan produksi BBM dari kilang-kilang minyak eksisting juga terus menurun," ungkapnya.

"Total kapasitas kilang minyak Indonesia sebesar 1,169 juta barel per hari/MMBCD. Standar kilang minyak eksisting tersebut pun mayoritas masih pada klasiükasi Euro 2," tandasnya.

Baca juga:
BI prediksi defisit transaksi berjalan 2019 di bawah 2,5 persen
Atasi defisit transaksi berjalan, Indonesia wajib ramah investasi asing
Strategi kurangi defisit transaksi berjalan versi UOB Indonesia
Defisit transaksi berjalan sektor jasa tak bisa diselesaikan pemerintah sejak era SBY
Hingga September 2018, BI sudah naikkan suku bunga acuan 150 bps

(mdk/azz)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.