Impor barang modal turun, investasi bisa terganggu
Pelaku usaha dalam negeri perlu memasok mesin dan suku cadang agar aktivitas industri tidak terganggu.
Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, pada Juni 2013 impor secara keseluruhan mencapai USD 15,59 miliar. Jumlah itu, turun 6,44 persen dibanding Mei. Melambatnya kinerja impor tidak lepas dari menurunnya jumlah barang modal.
Kepala BPS Suryamin mengatakan, penurunan terbesar dialami barang modal, sejalan dengan melambatnya realisasi investasi di Tanah Air.
"Barang modal terjadi penurunan besar dari USD 19,4 miliar menjadi USD 15,78 miliar," ujarnya dalam laporan statistik bulanan di kantornya, Jakarta, Kamis (1/8).
Barang modal yang menurun mayoritas berupa mesin dan suku cadang. BPS menyoroti perlunya pelaku usaha dalam negeri memasok peralatan sejenis agar aktivitas industri tidak terganggu.
"Untuk penurunan barang modal, semoga bisa disuplai yang diproduksi dalam negeri, tapi bisa juga ini mempengaruhi, investasi, substitusi harus dilakukan agar bisa menggenjot produksi," kata Suryamin.
Impor secara kumulatif sejak Januari hingga Juni 2013 mencapai USD 94,36 miliar, atau turun 2,16 persen YoY.
Di sisi lain, impor bahan baku justru naik dari USD 70 miliar menjadi USD 72,17 miliar (naik 6,48 persen). Sementara, impor barang jadi untuk konsumsi turun 2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi USD 6,41 miliar.
Dari segi negara asal impor, Indonesia banyak mendatangkan barang, paling besar dari China mencapai USD 14,42 miliar, disusul Jepang USD 9,75 miliar, kemudian Thailand USD 5,72 miliar. Pangsa pasar impor ketiga negara mencapai 41,38 persen dari total barang luar negeri yang didatangkan ke Tanah Air.
(mdk/noe)