Imbas Perang Timur Tengah, Harga Bahan Baku Plastik Naik 100 Persen
Menurut Rinawati, kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga memperburuk kondisi pasokan.
Kenaikan tajam harga bahan baku plastik menjadi tekanan berat bagi pelaku industri, termasuk PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS). Lonjakan harga yang mencapai hingga 100 persen pada triwulan pertama 2026, terutama di bulan Maret, memicu tekanan berlapis dari sisi produksi hingga permintaan pasar.
Direktur Keuangan YPAS, Rinawati Dinata, mengungkapkan bahwa kondisi global menjadi pemicu utama lonjakan tersebut. Konflik di kawasan Timur Tengah turut memengaruhi rantai pasok bahan baku plastik, baik di tingkat domestik maupun global.
"Telah terjadi peningkatan harga bahan baku plastik yang cukup tajam selama triwulan pertama khususnya di bulan Maret tahun 2026 ini yang mencapai peningkatan di kisaran 80-100 persen, khususnya untuk bahan baku lokal," kata Rinawati dalam Public Expose YPAS, Kamis (16/4).
Menurut Rinawati, kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga memperburuk kondisi pasokan. Keterbatasan bahan baku menyebabkan ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan, yang pada akhirnya mengganggu rantai pasok global.
"Selain harga juga adanya keterbatasan bahan baku yang mana menimbulkan ketidakseimbangan demand dan supply bahan baku plastik. Hal ini berakibat terganggunya rantai pasok global," ujarnya.
Di sisi hilir, kondisi tersebut memaksa produsen untuk menaikkan harga jual produk, termasuk karung plastik, secara bertahap. Namun, tidak semua konsumen dapat menerima kenaikan tersebut, sehingga permintaan mengalami tekanan.
"Kondisi ini berdampak terhadap peningkatan harga jual karung plastik secara bertahap. Namun, banyak konsumen yang belum atau tidak bisa menerima kondisi kenaikan harga tersebut," ungkapnya.
Penurunan Order dan Produksi
Akibatnya, perseroan mencatat adanya penurunan order dan produksi sebagai dampak langsung dari kondisi tersebut. Tekanan ini mencerminkan posisi industri plastik yang terjepit, baik dari sisi hulu akibat mahal dan langkanya bahan baku, maupun dari sisi hilir karena melemahnya daya serap pasar.
"Secara keseluruhan dampak terhadap perseroan adalah penurunan order dan produksi perseroan," ujarnya.
YPAS mencatat sepanjang tahun 2025, perseroan merambah ke pasar yang memiliki high value untuk fasilitas food grade. Dari segmen kantong semen, tahun 2025 mengalami penurunan 21,2 persen atau sebesar Rp 131,9 miliar dibandingkan tahun 2024 yang mencatat penjualan sebesar Rp167,4 miliar.
"Penurunan ini disebabkan melemahnya permintaan kantong semen, khususnya di domestik. Sedangkan untuk segmen roasted dan sandwich, terdapat kenaikan sebesar 147 persen, di mana fokus terbesar disebabkan karena perseroan memperluas pasar ekspor," pungkasnya.