ILO: Kemiskinan di negara maju meningkat
Diperkirakan, hampir dua miliar orang hidup dengan hanya berbekal USD 3.10 per hari.
Pekerjaan berkualitas yang bisa menyediakan proteksi sosial berperan sentral dalam pemberantasan kemiskinan. Demikian diungkap organisasi buruh internasional atau ILO dalam laporan terbarunya bertajuk "World Employment and Social Outlook Trends 2016.
Berdasarkan laporan tersebut, dunia dinilai masih dihuni banyak kaum papa. Meskipun, sejak 1990, kemiskinan dirasa telah berkurang setengah.
Saat ini, hampir sepertiga populasi di negara berkembang dan maju berada dalam kemiskinan, baik ekstrem maupun moderat. Meskipun memiliki pekerjaan, namun tetap saja mereka tak bisa lepas dari jerat kemelaratan.
"Sangat penting untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka. Begitu banyak orang bekerja dalam lingkungan pekerjaan yang tak pasti. Ini juga terjadi di negara maju," kata Raymond Torres, penasehat khusus ILO di bidang sosial ekonomi, seperti dikutip CNBC, kemarin.
Diperkirakan, hampir dua miliar orang hidup dengan hanya berbekal USD 3.10 per hari. Sekitar 36 persen dari populasi itu tinggal di negara maju.
"Saat ini, 30 persen populasi dunia berada dalam kemiskinan, mereka hanya menggengam dua persen dari total pendapatan penduduk dunia," kata Torres. "Hanya dengan meningkatkan kualitas pekerjaan dan menciptakan pekerjaan layak, kehidupan pekerja miskin dan keluarganya bisa ditingkatkan."
ILO menyebut kemiskinan di Afrika dan Asia tetap tinggi. Pun negara maju, terutama di Eropa, sebanyak 300 juta penduduknya diperkirakan berada dalam kemiskinan pada 2012.
"PBB telah menetapakan tujuan utama pembangunan berkelanjutan adalah mengakhiri kemiskinan di dunia pada 2030," kata Torres.
"ILO mengalkulasi pemberantasan kemiskinan ekstrem membutuhkan dana sebanyak USD 600 miliar per tahun atau sekitar USD 10 triliun dalam 15 tahun ke depan."
(mdk/yud)